Rumah Luwang Mayit

by: @pakdhe_beja
Sebelumnya saya minta maaf, untuk part 2 pondok bambu di tambak udang belum bisa saya selesaikan karna ternyata di tmpt ini ada suatu kejadian dijaman dulu yg blm saya ketahui dan sedang saya cari infonya, selain itu juga krn bapk saya sakit kmarin jd hrs nungguin di RS.
Ok sebelum mulai di inti cerita saya akan sedikit menceritakan bagaimana saya bisa sampai di pulau batam dan tempat tinggal saya sebelum sampai di rumah dengan berbagai kejadian. Dan untuk teman teman yang sedang cari kost, kontrakan, beli rumah, atau sedang bangun rumah, mungkin cerita ini bisa sedikit memberi manfaat, tentu semua tergantung percaya atau tidaknya, tapi inilah yang saya alami di pulau batam, di rumah yang di rumah luwang mayit tersebut.
Setelah memutuskan berhenti bekerja dari sebuah perusahaan pembuat alat musik di kawasan MM2100, saya pulang kekampung halaman di jawa tengah. Kurang lebih 2 minggu merehatkan diri dari penatnya dunia kerja, sampai akhirnya saya diajak pacar sepupuku untuk ikut ke pulau BATAM. Rani namanya, dia adalah pacar sepupu saya sejak masih SMA, rani sedang pulang kampung, yg kebetulan kampung kami juga tidak jauh. Seminggu kemudian saya berangkat ke pulau batam bersama rani, sesampainya di bandara HANK NADIM BATAM kami dijemput Fikri dan Sodik.
Fikri adalah sepupu saya sedangkan Sodik adalah teman satu kontrakan Fikri. Hal pertama yang saya rasakan saat menginjakan kaki di pulau batam ini adalah panas, mungkin karna belum terbiasa dengan suhu dan cuaca di pulau ini. Pulau dengan tanah berwarna agak kemerahan. Dengan dibonceng motor kami keluar dari bandara dan melaju daerah ke kontrakan Fikri yg berada di Bida ayu atau piayu katanya.. saya hanya menurut saja, setelah sampai dijalan raya ternyata lalu lintasnya cukup sepi, berbeda dengan bulak kapal bekasi tempat saya merantau kmarin.
Dikanan kiri jalan masih banyak pohon atau mungkin malah hutan, dalam hati saya merasa sepertinya saya akan betah dengan suasana pulau batam ini. Dan benar saja setelah beberapa waktu berkendara kami memasuki kawasan perkampungan yg disebut PIAYU, kami berhenti disalah satu rumah. Rumah sederhana dgan suasana diluar perkiraan saya, saya membayangkan rumah di kota padat penduduk yg ramai, ternyata rumah tujuan kami adalah rumah yg tidak jauh dengan danau dan hutan, mungkin skitar 200 - 300 meter saja jarak antara rumah dan danau ini.
Ketika memasuki rumah ini, saya disambut oleh penghuni kontrakan lain, dirumah ini ternyata dihuni oleh 5 orang dan setelah saya datang berarti jadi 6 orang. Hari berikutnya setelah sampai dibatam saya habiskan di kontrakan, semua penghuni pergi bekerja, kecuali sodik ia pergi untuk mencari pekerjaan, sudah setahun ia menganggur, atau tepatnya ia blm pernah diterima bekerja selama dibatam, di hari itu saya meng istirahatkan diri sebelum besok harus sudah mulai berjuang utk mendapatkan pekerjaan.
Keesokan harinya saya diajak sepupu saya berkeliling kawasan industri di muka kuning, disini saya lemas, mengelus dada dan hampir patah semangat. Betapa tidak, ratusan atau bahkan ribuan orang pencari kerja berkumpul di 1 tempat dimana biasanya ada selebaran akan ditempel di sana. Semenjak saat itu saya tidak lagi mau di mau diajak kesana, namun lebih sering menitipkan lamaran kerja ke sodik atau mencari informasi ke teman teman fikri. Penghuni kontrakan lain pun sering memberi informasi informasi terkait lowongan pekerjaan.
Setelah hampir 3 minggu, akhirnya saya dapat pekerjaan di salah satu perusahaan yg memproduksi alat alat pancing yang berada di kawasan industri muka kuning. Ada kejadian lucu saat itu, dimana lamaran yang saya titipkan semua disiapkan oleh sodik. Bahkan surat lamaran itu sodik yang menuliskanya, memang saya sering berbagi kertas folio dan semua yg diperlukan untuk melamar kerja, termasuk saat foto copy juga sering sekalian kelengkapan2 punya sodij saya fotocopykan skalian namun malah sodik yg belum mendapat pekerjaan.
Selama 3 minggu sebelum diterima kerja, hari hari saya di kontrakan, nonton TV dan VCD kalau pas ada yg libur mereka akan mengajak saya mancing di danau, namun yang berada di tengah hutan, jadi harus berjalan masuk dulu. Untuk sampai di danau yg berada ditengah hutan, kamj harus berjalan kaki dulu kurang lebih 30 menit, ternyata disana masih banyak pohon besar dan tinggi, masih banyak moyet juga, kadang pulang membawa buah buahan, biasanya kamk akan pulang setelah ashar. Yang ternyata dihari yang masih terang, akan menjadi gelap ketika melewati hutan, karna sinar matahari tidak bisa menembus pepohonan, sepanjang jalan biasanya kami berebut didepan, bukan hanya kami penakut, tapi memang didalam hutan gelap, lembab ditambah lagi banyak suara suara binatang, dan diatas kami di pepohonan, kawanan monyet yg jumlahnya sangat banyak ikut bergerak kemana langkah kami pergi. Lomoatan lomoatan monyet dari dahan ke dahan lain membuat pohon pohon bergoyang dan mengeluarkan suara gaduh.
Membuat kami brtambah takut, namun anehnya setiap mereka ada libur selalu mengajaku memancing di lokasi itu, karna ikanya sangat banyak, tidak perlu menungu lama asal kail dilempar pasti langsung dapat, berbeda dngan danau yang berada dpinggir jalan yg harus menunggu lama dan panas. Setahun kami tinggal di Piayu, ketika ada salah satu yang menikah dan ada juga yg mau pulang kampung, kami memutuskan pindah, saya, sodik, dan fikri kost di daerah Lubuk Baja, sedangkan yang lain kami tidak tau pindah kemana.
Sodik ikut saya dan fikri walaupun sebenarnya ia berasal satu kampung dengan yang lain, namun ia lebih dekat dengan kamj, jadi sodik kami bawa dan keperluanya kami yang tanggung, termasuk biasa sehari hari dan keperluan melamar kerja. 6 bulan kami kost disana, fikri mengatakan akan menikah, yg artinya kami harus pindah dan mencari rumah untuk kami tinggal, namun ternyata fikri sudah dapat rumah tidak jauh dari kost kami, ia mencari saat masuk kerja shift malam jadi siang hari ia mencari rumah.
Saya tidak ikut mencari karna setiap hari saya masuk pagi tidak ada shift malam, saya dan fikri kerja di satu tempat, cuma beda bagianya saja. Di sini lah kisah rumah luwang mayit itu dimulai, dihunian kami yang baru. Sore setelah saya pulang kerja, kami langsung mulai memindahkan barang barang kami, tidak banyak, hanya baju, kasur dan beberapa barang elekteonik saja, jadi kami membawa barang masing masing. Sejak memasuki gang saya sudah merasa ada yang aneh, hari sudah hampir magrib saat itu.
Saya merasa aneh karna ada ayam jago entah punya siapa dan darimana, tiba tiba memgikuti langkah fikri, ayam itu mengikuti sampai di rumah baru itu, ikut masuk kepagar halaman dan tidak mau pergi walau di usir, karna berkali kali diusir tapi kembali lagi, jadi kami biarkan. Di depan rumah saya tidak langsung masuk, saya duduk beristirahat diteras rumah, sambil melihat lihat sekitar, dikanan kiri rumah terlihat sepi, mungkin penghuninya masih bekerja. Kemudian pandangan saya tertuju ke sebuah rumah.
Rumah yg tidak jauh dari rumah ini. Cukup lama saya memandang rumah itu, karna seharusnya saya sudah melihatnya waktu berjalan kerumah ini. Tp saya tidak melihatnya padahal jalanya sama dan saya lewat didepanya. Mungkin tadj saya terlalu fokus dengan ayam jago itu, jadi tidak memperhatikan sekitar. Sebuah rumah, atau tepatnya bekas rumah atau bangunan, karna sudat rubuh sebagian tembok dan atapnya. Halaman dan sekitar sudah ditumbuhi rumput yg cukup tinggi, bahkan di dalam bangunan itu juga banyak rumput dan ada pohon yg tumbuh.
Karna sudah magrib, saya akhirnya masuk, sedangkan fikri dan sodik sudah duduk dilantai dapur yg luas,, saya masuk lewat pintu samping kiri yg langsung menuju kedapur. Rumah ini yang cukup besar, ada dua pintu utama, 4 kamar tidur, 2 kamar mandi dan 1 dapur. Pertama kali masuk saya langsung melihat lihat ruangan ruangan yang ada dirumah itu, ada kesan tua dirumah ini, ada sebagian bangunan yg bertembok tebal seperti rumah jaman dulu.
Kedua pintu utama lurus menuju dapur, dapurnya memang luas, lebih luas dari ruangan yg lain. Saya sebut pintu utama karna kedua pintu ini semua berada di depan, ada disisi kiri dan kanan, keduanya langsung lurus menuju dapur. Saya akan updt pelan pelan ya, karna lagi di tambak, jadi saya sambi kerja. Sedikit sedikit akan saya teruskan sampai ngantuk. Jangan ditungguin, di RT saja dulu judulnya.
Melihat saya keliling ruangan, fikri menyusul, ketika masuk di salah satu kamar yang paling luas, saya melihat sesuatu di sudut atas ruangan. "Opo kui fik" (apa itu fik) kataku sambil menunjuk arah benda yg menempel disudut ruangan itu. Kemudian fikri maju dan memegangnya. "Boneka" jawab fikri setelah memegang benda itu.
Boneka itu digunakan untuk menyumpal sebuah lubang disudut atau pojok tembok, hanya terlihat setengahnya saja. "Jor no wae fik rasah di jupuk"
(Biarkan saja fik tdk usah diambil). Saya mencegah fikri mengambilnya. Kemudian kami keluar dan duduk di lantai dapur, sodik menyedu kopi untuk kami. Setelah ngobrol sebentar saya memutuskan untuk memilih kamar yg ada di dekat pintu utama sebelah kiri, sedangkan fikri sudah memilih kamar terlebih dahulu sebelum kami pindah.
Ia dan rani memilih kamar depan di pintu utama sebelah kanan, didekat ruang tamu, sedangkan sodik saya ajak satu kamar. Setelah meletakan barang barang di kamar dan menata kasur yang hanya kami taruh dilantai, kami pun istirahat. Namun sebelum istirahat lampu saya hidupkan semua, tidak terkecuali lampu kamar mandi.
Saya lihat yang lain biasa saja dan santai di rumah ini, kecuali saya, karna sejak memasuki rumah, rasanya pengap dan aneh, tapi saya coba biasa saja, mungkin karna blm terbiasa dan karna rumah ini kosong sebelum kami tinggali. Sodik sudah terlelap malam itu, mungkin karna cape, begitu juga dengan fikri di kamarnya, sedangkan saya sendiri masih mencoba untuk terlelap, karna walau mataku terpejam, namun pukiranku melamun kemana mana, hingga akhirnya saya menyerah. Saya pergi ke dapur mengambil sisa kopi digelas tadi dan keluar duduk diteras. Sepi, hanya satu dua orang yang lewat dan rumah di sekitar pun sudah gelap, hanya lampu depan masing masing yang menyala, kecuali sebuah rumah yang berada las disebelah kanan.
Rumah kami berhimpitan. Bahkan halamanya pun hanya berbataskan sebuah pagar tembok yg tingginya 1,5 meter saja, rumah itu gelap tidak ada lampu yang menyala ditambah ada pohon jambu air yang cukup besar di dekat pagar pembatas halaman kami. Setelah menghabis kan satu batang rokok, sayapun masuk. Rasanya tidak enak merokok sendiri, apalagi saya blm terbiasa dengan suasana di sini. Keesokan harinya fikri bersiap pulang kampung, rani juga sudah datang dengan taxi menjemput fikri dan berangkat bersama kebandara setelah berpamitan dengan saya dan sodik.
Mereka berangkat pagi pagi karna harus berpamitan juga dengan sodara rani di salah satu purumahan di dekat bandara. Dan saya pun berangkat kerja setelah menaruh uanh dimeja untuk bekal sodik pergi hari ini. sodik masih bersiap siap pergi berjuang mencari pekerjaan saat saya pergi. Sore hari ketika pulang kerja, ternyata sodik blm pulang, saya hanya mondar mandir keluar masuk rumah, karna tidak bingung, tidak tau mah apa, masih merasa asing dengan rumah ini apa lagi ketika mau mengambil TV di sebuah ruangan karna td mlm blm sempat dipasang.
Tv tsb diletakan di sebuah ruangan tanpa pintu yang hanya berukuran sikar 1,5 x 2 meter saja dan tepat didepan kamar mandi, kamar mandi yang terasa selalu panas menurur saya. Di ruangan itu juga ada papan yg di buat untuk meletakan barang bagian atas. Sebelum mengambil tv saya melihat lihat ruangan ini dan akhirnya tv tidak jadi saya ambil, tidak tau kenapa tp rasanya aneh, ada perasaan takut disini, saya keluar lagi dan duduk di teras, bingung mau kemana karna blm kenal tetangga.
Ok sebelum mulai di inti cerita saya akan sedikit menceritakan bagaimana saya bisa sampai di pulau batam dan tempat tinggal saya sebelum sampai di rumah dengan berbagai kejadian. Dan untuk teman teman yang sedang cari kost, kontrakan, beli rumah, atau sedang bangun rumah, mungkin cerita ini bisa sedikit memberi manfaat, tentu semua tergantung percaya atau tidaknya, tapi inilah yang saya alami di pulau batam, di rumah yang di rumah luwang mayit tersebut.
Setelah memutuskan berhenti bekerja dari sebuah perusahaan pembuat alat musik di kawasan MM2100, saya pulang kekampung halaman di jawa tengah. Kurang lebih 2 minggu merehatkan diri dari penatnya dunia kerja, sampai akhirnya saya diajak pacar sepupuku untuk ikut ke pulau BATAM. Rani namanya, dia adalah pacar sepupu saya sejak masih SMA, rani sedang pulang kampung, yg kebetulan kampung kami juga tidak jauh. Seminggu kemudian saya berangkat ke pulau batam bersama rani, sesampainya di bandara HANK NADIM BATAM kami dijemput Fikri dan Sodik.
Fikri adalah sepupu saya sedangkan Sodik adalah teman satu kontrakan Fikri. Hal pertama yang saya rasakan saat menginjakan kaki di pulau batam ini adalah panas, mungkin karna belum terbiasa dengan suhu dan cuaca di pulau ini. Pulau dengan tanah berwarna agak kemerahan. Dengan dibonceng motor kami keluar dari bandara dan melaju daerah ke kontrakan Fikri yg berada di Bida ayu atau piayu katanya.. saya hanya menurut saja, setelah sampai dijalan raya ternyata lalu lintasnya cukup sepi, berbeda dengan bulak kapal bekasi tempat saya merantau kmarin.
Dikanan kiri jalan masih banyak pohon atau mungkin malah hutan, dalam hati saya merasa sepertinya saya akan betah dengan suasana pulau batam ini. Dan benar saja setelah beberapa waktu berkendara kami memasuki kawasan perkampungan yg disebut PIAYU, kami berhenti disalah satu rumah. Rumah sederhana dgan suasana diluar perkiraan saya, saya membayangkan rumah di kota padat penduduk yg ramai, ternyata rumah tujuan kami adalah rumah yg tidak jauh dengan danau dan hutan, mungkin skitar 200 - 300 meter saja jarak antara rumah dan danau ini.
Ketika memasuki rumah ini, saya disambut oleh penghuni kontrakan lain, dirumah ini ternyata dihuni oleh 5 orang dan setelah saya datang berarti jadi 6 orang. Hari berikutnya setelah sampai dibatam saya habiskan di kontrakan, semua penghuni pergi bekerja, kecuali sodik ia pergi untuk mencari pekerjaan, sudah setahun ia menganggur, atau tepatnya ia blm pernah diterima bekerja selama dibatam, di hari itu saya meng istirahatkan diri sebelum besok harus sudah mulai berjuang utk mendapatkan pekerjaan.
Keesokan harinya saya diajak sepupu saya berkeliling kawasan industri di muka kuning, disini saya lemas, mengelus dada dan hampir patah semangat. Betapa tidak, ratusan atau bahkan ribuan orang pencari kerja berkumpul di 1 tempat dimana biasanya ada selebaran akan ditempel di sana. Semenjak saat itu saya tidak lagi mau di mau diajak kesana, namun lebih sering menitipkan lamaran kerja ke sodik atau mencari informasi ke teman teman fikri. Penghuni kontrakan lain pun sering memberi informasi informasi terkait lowongan pekerjaan.
Setelah hampir 3 minggu, akhirnya saya dapat pekerjaan di salah satu perusahaan yg memproduksi alat alat pancing yang berada di kawasan industri muka kuning. Ada kejadian lucu saat itu, dimana lamaran yang saya titipkan semua disiapkan oleh sodik. Bahkan surat lamaran itu sodik yang menuliskanya, memang saya sering berbagi kertas folio dan semua yg diperlukan untuk melamar kerja, termasuk saat foto copy juga sering sekalian kelengkapan2 punya sodij saya fotocopykan skalian namun malah sodik yg belum mendapat pekerjaan.
Selama 3 minggu sebelum diterima kerja, hari hari saya di kontrakan, nonton TV dan VCD kalau pas ada yg libur mereka akan mengajak saya mancing di danau, namun yang berada di tengah hutan, jadi harus berjalan masuk dulu. Untuk sampai di danau yg berada ditengah hutan, kamj harus berjalan kaki dulu kurang lebih 30 menit, ternyata disana masih banyak pohon besar dan tinggi, masih banyak moyet juga, kadang pulang membawa buah buahan, biasanya kamk akan pulang setelah ashar. Yang ternyata dihari yang masih terang, akan menjadi gelap ketika melewati hutan, karna sinar matahari tidak bisa menembus pepohonan, sepanjang jalan biasanya kami berebut didepan, bukan hanya kami penakut, tapi memang didalam hutan gelap, lembab ditambah lagi banyak suara suara binatang, dan diatas kami di pepohonan, kawanan monyet yg jumlahnya sangat banyak ikut bergerak kemana langkah kami pergi. Lomoatan lomoatan monyet dari dahan ke dahan lain membuat pohon pohon bergoyang dan mengeluarkan suara gaduh.
Membuat kami brtambah takut, namun anehnya setiap mereka ada libur selalu mengajaku memancing di lokasi itu, karna ikanya sangat banyak, tidak perlu menungu lama asal kail dilempar pasti langsung dapat, berbeda dngan danau yang berada dpinggir jalan yg harus menunggu lama dan panas. Setahun kami tinggal di Piayu, ketika ada salah satu yang menikah dan ada juga yg mau pulang kampung, kami memutuskan pindah, saya, sodik, dan fikri kost di daerah Lubuk Baja, sedangkan yang lain kami tidak tau pindah kemana.
Sodik ikut saya dan fikri walaupun sebenarnya ia berasal satu kampung dengan yang lain, namun ia lebih dekat dengan kamj, jadi sodik kami bawa dan keperluanya kami yang tanggung, termasuk biasa sehari hari dan keperluan melamar kerja. 6 bulan kami kost disana, fikri mengatakan akan menikah, yg artinya kami harus pindah dan mencari rumah untuk kami tinggal, namun ternyata fikri sudah dapat rumah tidak jauh dari kost kami, ia mencari saat masuk kerja shift malam jadi siang hari ia mencari rumah.
Saya tidak ikut mencari karna setiap hari saya masuk pagi tidak ada shift malam, saya dan fikri kerja di satu tempat, cuma beda bagianya saja. Di sini lah kisah rumah luwang mayit itu dimulai, dihunian kami yang baru. Sore setelah saya pulang kerja, kami langsung mulai memindahkan barang barang kami, tidak banyak, hanya baju, kasur dan beberapa barang elekteonik saja, jadi kami membawa barang masing masing. Sejak memasuki gang saya sudah merasa ada yang aneh, hari sudah hampir magrib saat itu.
Saya merasa aneh karna ada ayam jago entah punya siapa dan darimana, tiba tiba memgikuti langkah fikri, ayam itu mengikuti sampai di rumah baru itu, ikut masuk kepagar halaman dan tidak mau pergi walau di usir, karna berkali kali diusir tapi kembali lagi, jadi kami biarkan. Di depan rumah saya tidak langsung masuk, saya duduk beristirahat diteras rumah, sambil melihat lihat sekitar, dikanan kiri rumah terlihat sepi, mungkin penghuninya masih bekerja. Kemudian pandangan saya tertuju ke sebuah rumah.
Rumah yg tidak jauh dari rumah ini. Cukup lama saya memandang rumah itu, karna seharusnya saya sudah melihatnya waktu berjalan kerumah ini. Tp saya tidak melihatnya padahal jalanya sama dan saya lewat didepanya. Mungkin tadj saya terlalu fokus dengan ayam jago itu, jadi tidak memperhatikan sekitar. Sebuah rumah, atau tepatnya bekas rumah atau bangunan, karna sudat rubuh sebagian tembok dan atapnya. Halaman dan sekitar sudah ditumbuhi rumput yg cukup tinggi, bahkan di dalam bangunan itu juga banyak rumput dan ada pohon yg tumbuh.
Karna sudah magrib, saya akhirnya masuk, sedangkan fikri dan sodik sudah duduk dilantai dapur yg luas,, saya masuk lewat pintu samping kiri yg langsung menuju kedapur. Rumah ini yang cukup besar, ada dua pintu utama, 4 kamar tidur, 2 kamar mandi dan 1 dapur. Pertama kali masuk saya langsung melihat lihat ruangan ruangan yang ada dirumah itu, ada kesan tua dirumah ini, ada sebagian bangunan yg bertembok tebal seperti rumah jaman dulu.
Kedua pintu utama lurus menuju dapur, dapurnya memang luas, lebih luas dari ruangan yg lain. Saya sebut pintu utama karna kedua pintu ini semua berada di depan, ada disisi kiri dan kanan, keduanya langsung lurus menuju dapur. Saya akan updt pelan pelan ya, karna lagi di tambak, jadi saya sambi kerja. Sedikit sedikit akan saya teruskan sampai ngantuk. Jangan ditungguin, di RT saja dulu judulnya.
Melihat saya keliling ruangan, fikri menyusul, ketika masuk di salah satu kamar yang paling luas, saya melihat sesuatu di sudut atas ruangan. "Opo kui fik" (apa itu fik) kataku sambil menunjuk arah benda yg menempel disudut ruangan itu. Kemudian fikri maju dan memegangnya. "Boneka" jawab fikri setelah memegang benda itu.
Boneka itu digunakan untuk menyumpal sebuah lubang disudut atau pojok tembok, hanya terlihat setengahnya saja. "Jor no wae fik rasah di jupuk"
(Biarkan saja fik tdk usah diambil). Saya mencegah fikri mengambilnya. Kemudian kami keluar dan duduk di lantai dapur, sodik menyedu kopi untuk kami. Setelah ngobrol sebentar saya memutuskan untuk memilih kamar yg ada di dekat pintu utama sebelah kiri, sedangkan fikri sudah memilih kamar terlebih dahulu sebelum kami pindah.
Ia dan rani memilih kamar depan di pintu utama sebelah kanan, didekat ruang tamu, sedangkan sodik saya ajak satu kamar. Setelah meletakan barang barang di kamar dan menata kasur yang hanya kami taruh dilantai, kami pun istirahat. Namun sebelum istirahat lampu saya hidupkan semua, tidak terkecuali lampu kamar mandi.
Saya lihat yang lain biasa saja dan santai di rumah ini, kecuali saya, karna sejak memasuki rumah, rasanya pengap dan aneh, tapi saya coba biasa saja, mungkin karna blm terbiasa dan karna rumah ini kosong sebelum kami tinggali. Sodik sudah terlelap malam itu, mungkin karna cape, begitu juga dengan fikri di kamarnya, sedangkan saya sendiri masih mencoba untuk terlelap, karna walau mataku terpejam, namun pukiranku melamun kemana mana, hingga akhirnya saya menyerah. Saya pergi ke dapur mengambil sisa kopi digelas tadi dan keluar duduk diteras. Sepi, hanya satu dua orang yang lewat dan rumah di sekitar pun sudah gelap, hanya lampu depan masing masing yang menyala, kecuali sebuah rumah yang berada las disebelah kanan.
Rumah kami berhimpitan. Bahkan halamanya pun hanya berbataskan sebuah pagar tembok yg tingginya 1,5 meter saja, rumah itu gelap tidak ada lampu yang menyala ditambah ada pohon jambu air yang cukup besar di dekat pagar pembatas halaman kami. Setelah menghabis kan satu batang rokok, sayapun masuk. Rasanya tidak enak merokok sendiri, apalagi saya blm terbiasa dengan suasana di sini. Keesokan harinya fikri bersiap pulang kampung, rani juga sudah datang dengan taxi menjemput fikri dan berangkat bersama kebandara setelah berpamitan dengan saya dan sodik.
Mereka berangkat pagi pagi karna harus berpamitan juga dengan sodara rani di salah satu purumahan di dekat bandara. Dan saya pun berangkat kerja setelah menaruh uanh dimeja untuk bekal sodik pergi hari ini. sodik masih bersiap siap pergi berjuang mencari pekerjaan saat saya pergi. Sore hari ketika pulang kerja, ternyata sodik blm pulang, saya hanya mondar mandir keluar masuk rumah, karna tidak bingung, tidak tau mah apa, masih merasa asing dengan rumah ini apa lagi ketika mau mengambil TV di sebuah ruangan karna td mlm blm sempat dipasang.
Tv tsb diletakan di sebuah ruangan tanpa pintu yang hanya berukuran sikar 1,5 x 2 meter saja dan tepat didepan kamar mandi, kamar mandi yang terasa selalu panas menurur saya. Di ruangan itu juga ada papan yg di buat untuk meletakan barang bagian atas. Sebelum mengambil tv saya melihat lihat ruangan ini dan akhirnya tv tidak jadi saya ambil, tidak tau kenapa tp rasanya aneh, ada perasaan takut disini, saya keluar lagi dan duduk di teras, bingung mau kemana karna blm kenal tetangga.
Hari sudah hampir magrib ketika seorang bapak bapak keluar dari sebuah rumah didepan rumah ini.. Rumah kami berhadapan hanya berbatas jalan saja.
"Assalamualaikum pak" saya memberi salam dan memperkenalkan diri sebagai tetangga baru, dan ketika saya menayakan penghuni rumah bagian kanan, bapak itu menjawab katanya sudah lama kosong. Karna tidak berani dirumah sendiri, akhirnya saya keluar mencari hiburan, sekedar berjalan-jalan ke subuah mall dan minum kopi di godiva setelah menelfon seorang teman kerja untuk menemani.
Skitar jam 8 malam saya pulang dan sodik sudah dirumah, dan ternyata dia pun merasakan hal yang sama, hanya saja dia bingung mau pergi kemana, karna tidak punya uang saya memang hanya memberinya uang buat naik angkot dan makan siang saja. Malam itu kami habiskan dengan menonton tv yg kami pasang didapur, dan seperti mlm kmarin lampu semua saya nyalakan. Tapi terangnya semua ruangan tidak membuat saya berani, masih ada rasa takut walau sudah ada sodik di rumah, bahkan untuk ke kamar mandi saja saya ragu ragu. Malam itu kami membawa kasur ke dapur didepan tv dan tidur disana.
Dan setiap hari selalu begitu, hingga seminggu kemudian saat fikri kembali bersama rani, saya sedikit lega karna setiap pulang kerja ada orang di rumah. Semakin lama saya membiasakan diri dengan suasana rumah ini, bersikap biasa dan menepis rasa tidak nyamannya. Hingga saat sedang bekerja handphonku berdering , rani menangis dan memintaku pulang secepatnya, namun ia tidak memberikan alasan kenapa saya harus pulang, hari itu saya tidak lembur. Jam 3 sore bergegas pulang dengan memberi berbagai alasan keatasan.
"Ngopo kok lungguh neng kene" (Ngapain kamu duduk disini) saya menegur rani yg tampak melamun duduk di depan pintu gerbang. Rani kaget, dan mengusap matanya, seperti habis menangis, kemudian mengajak masuk ke dalam dan menuju kamarnya yg sudah terbuka dan menyuruh saya masuk sedangkan ia sendiri tidak ikut masuk kamar rani kembali dan duduk di ruang tamu. Ternyata di dalam kamar sudah ada perempuan setengah baya dan fikri. perempuan itu adalah tantenya rani. fikri terbaring di kasur sedangkan tantenya rani duduk di kursi meja rias.
"neng ndi wae awakmu kok ra bali bali" (Kemana sj kamu kok ngak pulang2). Kata fikri menyambutku ketika masuk kamar, sy mengabaikan ucapanya dan sungkem terlebih dahulu kepada tantenya rani. "Yo kerjo fik, neng ndi neh, neng ngopo awakmu" (Ya krj fik kmn lg, km knp) jwbku kmudian. Fikri tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil masih berbaring. Karna merasa aneh, saya keluar dari kamar dan duduk si ruang tamu menemui rani.
"Fikri sakit apa ran?" tanyaku kpd rani. Rani masih diam ia mencoba mnahan tangis, saya melihat matanya berkaca kaca saat saya tanya dan kemudian mengatakan, fikri dari tadi siang pas bangun tidur katanya aneh, ia tidak mengenal rani, yang fikri kenal cuma saya dan tantenya rani saja,
Bahkan rani diusir ketika masuk kamar.
Tidak lama setelah itu, tantenya rani keluar dari kamar dan ikut duduk di ruang tamu. Beliau mengatakan fikri mulai nglantur, fikri merasa tanganya sangat besar dan kuat, sampai busa untuk merubuhkan tembok sekali dorong, dan lebih aneh lagi fikri tidak mengenal siapa dirinya sendiri, ia merasa dirinya bukan fikri, dan ini baru awal dimulainya kejadian kejadian aneh dirumah ini, dirumah yang baru kami tinggali.
Setelah tantenya rani mengatakan keadaan fikri tadi, saya pun masuk melihat keadaan fikri, namun saat saya masuk kamarnya ia terlihat tenang dan tidur, sayapun keluar lagi. Sore itu tantenya rani pulang krn melihat fikri sudah tenang, kami membiarkan fikri didalam kamar sendiri. Rani masih duduk diruang tamu, dan saya sendiri mandi karna sudah sore dan sebentar lagi magrib.
Belum saya selesai memakai baju, rani memangil manggil dari dalam kamarnya, saya pun buru buru memakai baju dan ke kamarnya, ternyata fikri bertingkah aneh lagi walau masih terbaring. Hal itu masih berlangsung sampai habis magrib, rami menyuruhku untuk memanggil ustad masjid saja, akhirnya saya keluar dan menuju masjid dan memanggil ustad, tidak lama ustad datang melihat keadaan fikri.
"Mas wudhu dulu ya" Pak ustad tadi menyuruhku berwudu. Saya menurut saja kata ustad itu, walaupun tidak tau maksudnya knp saya disuruh berwudhu. Setelah berwudhu saya kembali ke kamar fikri, dan ternyata pak ustad tadi sudah bersiap untuk meruqiyah fikri, saya disuruh memegang dan menjaga fikri agar tidak berontak. "Deg" Seketika hati saya seperti merasakan sesuatu dan pikiran serta ingatan saya seperti pernah merasakan kulit ini, bukan hanya kulit tp jga bau ini. Ya ini bau dan rasa kulit orang sepuh atau oranh yg sudah tua, saya paham bau dan kulit ini karna dulu saya dekat dng buyut saya.
Fikri didudukan, fikri melihat saya dan pak ustad bergantian spt bingung. Pak ustad memegang salah satu tangan fikri dan kepalanya, sedangkan saya memegang tangan lainya, sebelum mulai membaca doa, saya juga disuruh membaca doa doa sebisa saya, dan ruqiyah pun dimulai. Baru beberapa ayat pak ustad membaca doa, fikri bereaksi, ia merintih, kadang mengeram namun tidak keras, tidak juga meronta atau teriak, namun saya merasakan tangan fikri mengeras yang artinya fikri menahan sesuatu, saya terus membaca doa doa yg saya bisa sebelum pak ustad menegur saya dengan nada sedikit kuat.
"Mas jangan nangis, yang kuat" kata pak ustad tadi. Saya pun mengusap pipi saya, dan benar ternyata tanpa saya sadari air mataku keluar, saya pun mengangguk setelah mengusap air mata dan kembali memlafalkan doa. Saya punya waktu sampai jam 10:30 saja. Kita lanjutkan pelan pelan ya. Mohon suport RT nya. Biar semangat updt.
Semakin lama rintihan fikri semakin keras dan berontak walau tidak begitu kuat, saat fikri berontak saya bingung, kalau saya pegang kuat takutnya ia kesakitan, namun tidak ada pilihan lain, saya harus melakukanya, beberapa saat pak ustad terpejam dan diam. Tanganya masih memegang fikri, dan tidak lama setelah itu fikri lemas, dan seperti mau muntah, namun tidak ada yg keluar, hanya seperti cairan kental saja. Saya pun melonggarkan genggaman saya.
Pak ustad membuka matanya dan membaringkan fikri, setelah fikri tidak muntah lagi. Sebelum pamit pak ustad berpesan, supaya besok kuku kuku fikri dipotong, dan usahakan suruh buang air besar, karna sesuatu yg merasuki fikri bisa keluar lewat kuku, muntah atau lewat buang air besar. Malam itu fikri tenang dan tertidur, badanya lemas. Namun saya masih mencium bau itu, bau keringat orang sepuh.
Kami pun beristirahat, rani tidur dikamarnya menemani fikri, sedangkan saya di ruang tamu, berjaga jaga kalau kalau ada apa apa.. ketika sodik pulang malam itu, saya suruh menemani ku di ruang tamu. Oh ya.. pak ustad mengatakan, kalau yang masuk ke tubuh fikri mengaku sebagai eyang putrinya rani walaupun ustad tadi juga ragu saat mengatakanya, hanya saja saat ia mencoba berkomunikasi yg masuk ketubuh fikri adalah eyang putri.
Tantenya rani pun mengatakan demikian sebelum pulang sore tadi. Katanya eyang putrinya rani itu marah, karna kmarin waktu mau menikah, fikri tidak berziarah ke makamnya, ia marah karna rani adl cucu kesayanganya. Dan mmg bnar rani adl cucu kesayangan dimasa eyangnya hidup dulu. Namun entah kenapa saya merasa aneh dan lebih menolak untuk mempercayainya, kalau ia adl eyang putrinya rani, knp justru tidak mengenal rani, malah mengenal saya yang tidak pertemu dimasa hidupnya.
Namun saya mengabaikan perasaan itu, yg penting fikri sudah membaik. Seperti yang dikatakan pak ustad tadi mlm, pagi pagi fikri ke kamar mandi dan buang air besar karna sakit perut, namun yg keluar hanya sedikit. Saya lega karna fikri terlihat baik baik saja, hanya saja masih lemas, dan sudah nyambung diajak berkomuikasi.
Pagi itu saya berangkat kerja dgn tenang, meninggalkan rani dan fikri dirumah, saya hanya berpesan segera hubungi kalau ada apa apa. Beberapa minggu kemudian fikri kumat lagi dan kami melakukan penanganan yang sama yaitu diruqiyah, hanya saja waktu itu siang hari. Namun kali ini pak ustad menanyakan kepada kami, apakah fikri punya pegangan atau tidak, tentu saja kami semua tidak ada yang tau. Kemudian pak ustad menyuruh kami untuk menanyakanya kepada fikri nanti setelah ia bangun. Kamipun mengiyakan pesan pak ustad tadi.
"Assalamualaikum pak" saya memberi salam dan memperkenalkan diri sebagai tetangga baru, dan ketika saya menayakan penghuni rumah bagian kanan, bapak itu menjawab katanya sudah lama kosong. Karna tidak berani dirumah sendiri, akhirnya saya keluar mencari hiburan, sekedar berjalan-jalan ke subuah mall dan minum kopi di godiva setelah menelfon seorang teman kerja untuk menemani.
Skitar jam 8 malam saya pulang dan sodik sudah dirumah, dan ternyata dia pun merasakan hal yang sama, hanya saja dia bingung mau pergi kemana, karna tidak punya uang saya memang hanya memberinya uang buat naik angkot dan makan siang saja. Malam itu kami habiskan dengan menonton tv yg kami pasang didapur, dan seperti mlm kmarin lampu semua saya nyalakan. Tapi terangnya semua ruangan tidak membuat saya berani, masih ada rasa takut walau sudah ada sodik di rumah, bahkan untuk ke kamar mandi saja saya ragu ragu. Malam itu kami membawa kasur ke dapur didepan tv dan tidur disana.
Dan setiap hari selalu begitu, hingga seminggu kemudian saat fikri kembali bersama rani, saya sedikit lega karna setiap pulang kerja ada orang di rumah. Semakin lama saya membiasakan diri dengan suasana rumah ini, bersikap biasa dan menepis rasa tidak nyamannya. Hingga saat sedang bekerja handphonku berdering , rani menangis dan memintaku pulang secepatnya, namun ia tidak memberikan alasan kenapa saya harus pulang, hari itu saya tidak lembur. Jam 3 sore bergegas pulang dengan memberi berbagai alasan keatasan.
"Ngopo kok lungguh neng kene" (Ngapain kamu duduk disini) saya menegur rani yg tampak melamun duduk di depan pintu gerbang. Rani kaget, dan mengusap matanya, seperti habis menangis, kemudian mengajak masuk ke dalam dan menuju kamarnya yg sudah terbuka dan menyuruh saya masuk sedangkan ia sendiri tidak ikut masuk kamar rani kembali dan duduk di ruang tamu. Ternyata di dalam kamar sudah ada perempuan setengah baya dan fikri. perempuan itu adalah tantenya rani. fikri terbaring di kasur sedangkan tantenya rani duduk di kursi meja rias.
"neng ndi wae awakmu kok ra bali bali" (Kemana sj kamu kok ngak pulang2). Kata fikri menyambutku ketika masuk kamar, sy mengabaikan ucapanya dan sungkem terlebih dahulu kepada tantenya rani. "Yo kerjo fik, neng ndi neh, neng ngopo awakmu" (Ya krj fik kmn lg, km knp) jwbku kmudian. Fikri tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil masih berbaring. Karna merasa aneh, saya keluar dari kamar dan duduk si ruang tamu menemui rani.
"Fikri sakit apa ran?" tanyaku kpd rani. Rani masih diam ia mencoba mnahan tangis, saya melihat matanya berkaca kaca saat saya tanya dan kemudian mengatakan, fikri dari tadi siang pas bangun tidur katanya aneh, ia tidak mengenal rani, yang fikri kenal cuma saya dan tantenya rani saja,
Bahkan rani diusir ketika masuk kamar.
Tidak lama setelah itu, tantenya rani keluar dari kamar dan ikut duduk di ruang tamu. Beliau mengatakan fikri mulai nglantur, fikri merasa tanganya sangat besar dan kuat, sampai busa untuk merubuhkan tembok sekali dorong, dan lebih aneh lagi fikri tidak mengenal siapa dirinya sendiri, ia merasa dirinya bukan fikri, dan ini baru awal dimulainya kejadian kejadian aneh dirumah ini, dirumah yang baru kami tinggali.
Setelah tantenya rani mengatakan keadaan fikri tadi, saya pun masuk melihat keadaan fikri, namun saat saya masuk kamarnya ia terlihat tenang dan tidur, sayapun keluar lagi. Sore itu tantenya rani pulang krn melihat fikri sudah tenang, kami membiarkan fikri didalam kamar sendiri. Rani masih duduk diruang tamu, dan saya sendiri mandi karna sudah sore dan sebentar lagi magrib.
Belum saya selesai memakai baju, rani memangil manggil dari dalam kamarnya, saya pun buru buru memakai baju dan ke kamarnya, ternyata fikri bertingkah aneh lagi walau masih terbaring. Hal itu masih berlangsung sampai habis magrib, rami menyuruhku untuk memanggil ustad masjid saja, akhirnya saya keluar dan menuju masjid dan memanggil ustad, tidak lama ustad datang melihat keadaan fikri.
"Mas wudhu dulu ya" Pak ustad tadi menyuruhku berwudu. Saya menurut saja kata ustad itu, walaupun tidak tau maksudnya knp saya disuruh berwudhu. Setelah berwudhu saya kembali ke kamar fikri, dan ternyata pak ustad tadi sudah bersiap untuk meruqiyah fikri, saya disuruh memegang dan menjaga fikri agar tidak berontak. "Deg" Seketika hati saya seperti merasakan sesuatu dan pikiran serta ingatan saya seperti pernah merasakan kulit ini, bukan hanya kulit tp jga bau ini. Ya ini bau dan rasa kulit orang sepuh atau oranh yg sudah tua, saya paham bau dan kulit ini karna dulu saya dekat dng buyut saya.
Fikri didudukan, fikri melihat saya dan pak ustad bergantian spt bingung. Pak ustad memegang salah satu tangan fikri dan kepalanya, sedangkan saya memegang tangan lainya, sebelum mulai membaca doa, saya juga disuruh membaca doa doa sebisa saya, dan ruqiyah pun dimulai. Baru beberapa ayat pak ustad membaca doa, fikri bereaksi, ia merintih, kadang mengeram namun tidak keras, tidak juga meronta atau teriak, namun saya merasakan tangan fikri mengeras yang artinya fikri menahan sesuatu, saya terus membaca doa doa yg saya bisa sebelum pak ustad menegur saya dengan nada sedikit kuat.
"Mas jangan nangis, yang kuat" kata pak ustad tadi. Saya pun mengusap pipi saya, dan benar ternyata tanpa saya sadari air mataku keluar, saya pun mengangguk setelah mengusap air mata dan kembali memlafalkan doa. Saya punya waktu sampai jam 10:30 saja. Kita lanjutkan pelan pelan ya. Mohon suport RT nya. Biar semangat updt.
Semakin lama rintihan fikri semakin keras dan berontak walau tidak begitu kuat, saat fikri berontak saya bingung, kalau saya pegang kuat takutnya ia kesakitan, namun tidak ada pilihan lain, saya harus melakukanya, beberapa saat pak ustad terpejam dan diam. Tanganya masih memegang fikri, dan tidak lama setelah itu fikri lemas, dan seperti mau muntah, namun tidak ada yg keluar, hanya seperti cairan kental saja. Saya pun melonggarkan genggaman saya.
Pak ustad membuka matanya dan membaringkan fikri, setelah fikri tidak muntah lagi. Sebelum pamit pak ustad berpesan, supaya besok kuku kuku fikri dipotong, dan usahakan suruh buang air besar, karna sesuatu yg merasuki fikri bisa keluar lewat kuku, muntah atau lewat buang air besar. Malam itu fikri tenang dan tertidur, badanya lemas. Namun saya masih mencium bau itu, bau keringat orang sepuh.
Kami pun beristirahat, rani tidur dikamarnya menemani fikri, sedangkan saya di ruang tamu, berjaga jaga kalau kalau ada apa apa.. ketika sodik pulang malam itu, saya suruh menemani ku di ruang tamu. Oh ya.. pak ustad mengatakan, kalau yang masuk ke tubuh fikri mengaku sebagai eyang putrinya rani walaupun ustad tadi juga ragu saat mengatakanya, hanya saja saat ia mencoba berkomunikasi yg masuk ketubuh fikri adalah eyang putri.
Tantenya rani pun mengatakan demikian sebelum pulang sore tadi. Katanya eyang putrinya rani itu marah, karna kmarin waktu mau menikah, fikri tidak berziarah ke makamnya, ia marah karna rani adl cucu kesayanganya. Dan mmg bnar rani adl cucu kesayangan dimasa eyangnya hidup dulu. Namun entah kenapa saya merasa aneh dan lebih menolak untuk mempercayainya, kalau ia adl eyang putrinya rani, knp justru tidak mengenal rani, malah mengenal saya yang tidak pertemu dimasa hidupnya.
Namun saya mengabaikan perasaan itu, yg penting fikri sudah membaik. Seperti yang dikatakan pak ustad tadi mlm, pagi pagi fikri ke kamar mandi dan buang air besar karna sakit perut, namun yg keluar hanya sedikit. Saya lega karna fikri terlihat baik baik saja, hanya saja masih lemas, dan sudah nyambung diajak berkomuikasi.
Pagi itu saya berangkat kerja dgn tenang, meninggalkan rani dan fikri dirumah, saya hanya berpesan segera hubungi kalau ada apa apa. Beberapa minggu kemudian fikri kumat lagi dan kami melakukan penanganan yang sama yaitu diruqiyah, hanya saja waktu itu siang hari. Namun kali ini pak ustad menanyakan kepada kami, apakah fikri punya pegangan atau tidak, tentu saja kami semua tidak ada yang tau. Kemudian pak ustad menyuruh kami untuk menanyakanya kepada fikri nanti setelah ia bangun. Kamipun mengiyakan pesan pak ustad tadi.
Tidak menunggu fikri bangun, kami mengeledah dompet fikri, dan menemukan seauatu terselip didompetnya, sebuah benda yg dibungkus dengan kulit hitam yg dijahit membentuk segi empat kecil. Dan kami sepakat untuk membuangnya. Kami buang di luar pagar rumah di rerumputan pinggir jln.
Dan ketika fikri bangun, kami memberi tahu kalau benda itu sudah kamj buang, Fikri mengangguk dan mengatakan tidak apa apa, tapi ia berjalan keluar meminta saya menunjukan dimana benda itu dibuang,
Aneh.. benda itu sudah hilang, tidak ada ditempatnya lagi. "Awakmu entuk barang ngono kui seko ndi" (kamu dpt barang spt itu dari mana?) tanyaku. "Dike'i koncone wes suwe" (dikasih teman sudah lama) jawab fikri, dan kami pun kembali masuk. Duduk ruang tamu dan fikri menceritakan perihal benda itu. Jadi dulu benda itu fikri dapat dari salah satu temanya. Kata temanya dulu, benda itu untuk pelindung diri, fikri menerima pemberian temanya dan memasukanya kedompet, sebenarnya fikri tidak pernah mengalami hal hal aneh, baru kali ini saja ia mengalaminya.
Fikri adalah orang yang religius dari masih bujangan, berbanding terbalik dengan saya. Namun kami dekat dari kecil karna ibu kami kakak beradik, ibu saya adalah kakaknya ibu fikri, saya memanggilnya bibi dan kami memiliki sedikit kesamaan, setiap merasa meriang atau sakit dan memeriksakan ke dokter, dokter selalu bilang keadaan baik-baik saja, dan alhasil pulang hanya diberi fitamin saja.
Saya semakin terbiasa dan mulai betah tinggal di rumah ini dengan segala keganjilanya, bahkan saya mulai merasa nyaman. Tidak ada perasaan takut lagi. Tidak begitu saya gubris atau fikirkan walaupun kadang terasa merinding.
Beberapa bulan berjalan, ada yang datang memcari tempat kost, karna ada dua kamar yang kosong kamipun menerimanya, beberala hari kemudian ada lagi yg kost juga. Semuanya perempuan. Saya pindah kamar ke rumah sisi utara, dan 2 kamar disisi selatan yg kami kost kan, kamar itu berderet hanya berbatas kamar mandi saja. Dan bisa masuk lewat pintu utama sebelah selatan/kiri. Dan keanehan keanehan baru mulai terjadi lagi.
Yang menempati kamar di sebelah pintu kiri atau bekas kamar saya adalah kak lin, ia bekerja di salah satu kantor di batam centre sedangkan yang menempapati kamar sebelahnya atau belakang adalah kak rizka , rank dan kak rizka adalah teman kerja, kamar yg kak rizka tmpati adl kamar yang paling luas, yg ada bonekanya di dinding. Rumah kami jadi semakin rame dan hidup setelah mereka datang, apalagi atasan kak rizka dan rani sering main ke rumah saat itu, tidak perduli siang atau malam. Namanya pak gustaf.
Orangnya friendly dan suka bercanda. Kami memang jarang mengunci pintu sebelah kiri, agar memudahkan kak lin atau kak rizka masuk, karna pulangnya tidak tentu. Malam itu pak gustaf datang, namun kami semua sudah tidur, beliau masuk lewat pintu kiri, krn tau tidak dikunci beliau masuk saja, "Masak apa mba" sapa pak gustaf karna melihat kak lin dari belakang sedang berdiri di dapur menghadap kompor, namun kak lin tidak menoleh ataupun menjawab.
Pak gustaf pun melewatinya, dan melihat kamar kami dan kak rizka, karna kami sudah tidur dan kak rizka tidak ada. Ia pun keluar, setelah menutup pintu ia terdiam menatap motor yang berhenti di depan pintu gerbang. "Mba dari mana? Kok baru pulang" kata pak gustaf bingung sambil menunjuk kak lin dan ke arah dalam rumah. "Iya pak baru pulang" jawab kak lin ramah dan masuk kerumah.
Tanpa basa basi lagi, pak gustaf pergi tanpa pamit, ia bingung siapa yang ia lihat didapur tadi, ia melihat kak lin didapur tapi pas keluar kak lin baru pulang kerja diantar cowoknya. Di kantor pak gustaf menceritakan kejadian malam itu kepada rani, yang malah di tertawakan rani, karna dikira hanya menakut nakuti saja.
Selang bbrp hari. Waktu itu kira kira masih jam 10 malam. Rani dan fikri dikamar sedang ngobrol sambil berbaring, pintu kmar juga tdk dtutup. Saya sendiri tidak di rumah malam itu. "Sombong banget sih pak" kata rani sedikit keras karna melihat pak gustaf mondar mandir di dapur dan ruang tamu. Dan saat disapa malah pergi, saat rani keluar kamar juga sudah tidak ada, rani pun keluar rumah, namun pak gustaf tdk ada juga.
Keesokan harinya rani marah marah kepada atasanya perihal tadi malam. Melihat rani ngomel ngomel pak gustaf malah bingung, karna ia sendiri tadi malam tidak main kerumah, malam itu pak gustaf keluar bersama teman kantor dan juga kak rizka. Banyak kejadian kejadian dirumah ini, namun alhamdulillah saya sendiri tidak pernah melihat secara langsung, hanya merasa panas saat dirumah ini, berbeda dengan saat dirumah tetangga. Bahkan diteras rumahpun saya masih merasa panas. Walaupun tdak pernh melihat namun masih sering merasakan merinding atau berpapasan, kadang tiba tiba merasa takut. Saking panasnya kipas angin pun terasa spt hairdryer, dimana angin yang dihasilkan malah hangat. Kamar mandi yang harusnya dingin pun panas, bahkan lebih panas lagi, jdi kalau keluar dari kamar mandi akan terasa perbedaan suhunya. Kamar mandi itu berada di depan ruangan yg berukuran 1,5 x 2 meter saja dan tanpa pintu, dan inilah yang disebut luwang mayit, sebuah ruangan yang hanya berukuran seperti lubang kuburan. Di ruangan ini juga saya sering merasa berbeda.
Tetapi justru ruangan ini yg sering saya masuki setiap harinya. Karna handuk saya cantelkan disitu. Dan barang barang saya jg ditaruh disitu, baju kotor, tas dll. Di satu hari saya mendapat kabar kalau rani hamil. Kabar yang membahagiakan sekali buat saya, krn akn punya kponakan. Alhamdulillah apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, kehamilan rani berjalan lancar, sampai waktu melahirkan, bibi atau ibunya arif pun datang dari kampung untuk membantu mengurus bayinya, bayi itu diberinama faisal. Setiap malam bibi selalu membaca alquran.
Yang paling berbahagia saat kedatangan bibi selain fikri dan rani adalah sodik, karna saat bibi disini ia merasa punya ibu, merasakan diperhatikan ibu dan serasa mempunyai orang tua. Sesuatu yg sangat ia rindukan, dari kecil ia tidak merasakan hal itu. Ibu sodik menjadi tkw di arab sejak sodik kecil dan jarang pulang, sedangkan ayag sodik juga jarang pulang waktu sodik kecil sampai lulus sekolah. Sodik dr kecil sudah mandiri mengurua dirinya sendiri, kurang lebih 1 bulan bibi dibatam, dan akhirnya pulang. Sodikpun tak kuasa menahan tangisnya seperti tidak merelakanya. Ia ikut mengantar sampai bandara.
====================================================
Masih banyak kejadian sampai beberapa tahun kedepan setelah faisal lahir, saya akhiri malam ini dan mudah mudahan bisa lanjut besok ya.
Maaf kalau ada salah penulisan. Terimakasih.
Kali ini kejadian dialami sodik, walaupun kejadin ini bukan dirumah, dan mungkin bukan kejadian mistis, tapi ga apa apa ya saya ceritakan. Karna hari itu saya tudak lembur jam 9 saya sudah dirumah, duduk diteras sendiri, ditemani kopi dan sebungkus rokok, sedangkan fikri dan yang lain sudah di kamarnya.
Saya yang tidak biasa tidur cepat bingung mau ngapain. Jadi duduk diteras dengan pemandangan bukit yang diatasnya berdiri sebuah hotel, hotel vista namanya. Mungkin malah melamun waktu itu, dan di sadarkan oleh suara kaki yang diseret. Saya mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, dan melihat sodik sudah di pintu gerbang, berpegangan di pintu gerbang besi itu, kemudian melangkah pelan dengan kaki yang diseret, "Sreekkk sreekk". Ia berjalan mendekat, dan saya berdiri menghampirinya. "Nengopo koe" (Kenapa kamu?) tanya ku kpd sodik, memastikan ia tidak abis berkelahi, karna mmg orangnya emosian.
"Aku bar dicokot asu neng kono" (Aku habis di gigit anjing disana) jawab sodik sambil menunjuk arah belakang dan menyebut tempat kejadian. Kemudian menunjukan luka luka di kedua kakinya dan beberapa ada tangan dan tubuhnya, sepatu yang ia kenakan pun tunggal 1. Baju dan celananya sobek sobek dan kotor. Seketika saya mundur, bukan menolong malah mengusir sodik menjauh, menyuruhnya mandi di luar rumah di kran air yg biasa buat menyiram bunga. Dan sebelum mandi saya tidak memperbolehkan masuk. Dia pun menurut dan saya tertawa melihatnya.
Mendengar keributanku dan sodik, fikri dan rani keluar yang juga ikut tertawa. Karna melihat sodik mandi di luar dengan air dan tanah bergantian.
Setelah mandi baru sodik masuk dan ganti baju, dan menceritakan kejadian tadi. Malam itu sodik pulang dengan mengunakan angkot atau biasa di sebut carry (keri), dan turun di depan gang jalan masuk perumahan.
Dijalan ini ada beberapa meter yang gelap karna lampu jalanya sudah lama putus, dan ada pohon pohon berjejer menambah gelapnya jln. Ketika pas melewati jalan yang gelap dengan jalan kaki, kaki sodik terasa ditabrak sesuatu, diapun kaget dan langsung berlari karena Sesuatu yang menabraknya tidak terlihat, baru lari beberapa langkah, ia roboh krn tubuhnya di tabrak sesuatu lagi, namun kali ini samar samar terlihat, seperti sosok anjing hitam yang tinggi.
"Tolong tolong" Sodik berteriak meminta pertolongan, namun tidak ada yg dengar. Padahal tidak jauh dari situ ada warung nasi padang dan mie ayam yang ramai pengunjung. Sementara sosok anjing itu, sedang menggigit dan mengoyak kaki nya, ada dua ekor anjing yang besar yang berebut, saling menarik tubuh sodik. Sodik hanya bisa meronta, berteriak menendang dan memukul tak tentu arah, karna sosok itu juga berwarna gelap dan samar terlihat.
Untung saja celana jeans yang ia kenakan cukup longgar jadi luka gigitan di kaki dan juga lengan tidak terlalu dalam. Teriakan minta tolong terus ia lakukan dengan terus berusaha melawan. Dan teriakanya sepertinya di dengar, karna banyak orang dari warung nasi padang itu berlari kearahnya, dan tiba tiba anjing itu tidak terlihat, tidak tahu pergi kemana. Dan lebih kasian lagi, tidak ada yang mengantarkan sodik pulang, jadi ia susah payah pulang tertatih berjalan dengan menahan rasa sakit akibat gigitan gigitan tadi.
Pagi harinya sodik saya suruh memeriksakan lukanya ke dokter, takut terjadi apa-apa. Walapun menurut warga yang melihat saat kejadian, mereka tidak melihat apa-apa, hanya melihat sodik guling guling dan teriak minta tolong. Dan tentu saja agar sodik bisa cepat pulih dan bisa berjuang mencari pekerjaan lagi.
Saya sangat salut dengan semangat juangnya.
======================================================
Tak terasa faisal sudah tumbuh semakin besar, dan saya sangat dekat denganya, dia memanggil saya kokom (o om) di ajari manggil om karna saya blm menikah walaulun seharuanya saya dpanggil pakdhe, umur saya lebih tua sesikit dari fikri dan secara silsilah keluarga saya lebih tua jg. Saya kira anak anak tiba tiba menangis atau tertawa sendiri itu wajar, saya tidak pernah memikirkan hal aneh saat itu, dan saya juga tidak pernah menceritakan kepada siapapun.
Hingga sesuatu yang aneh terjadi pada faisal yg masih berumur kira kira 1 tahunan. Faisal tiba tiba menangis dan rewel, tangisnya pun keras lebih seperti menjerit, segala cara sudah dilakukan untuk menenangkanya, namun tidak berhasil juga, hingga akhirnyan fikri dan rani membaca doa doa.
Pelan namun pasti, rewel dan tangis faisal perlahan mereda Dan trtidur. Rani membaringkanya di kamar, dan ternyata keganjilan pada faisal belum selesai. Setelah dibaringkan faisal justru terjaga dan mendorong rani, berkali kali didekati faisal akan mendorong walau masih dlm keadaan berbaring memeluk boneka pisang yg dijadikan sebagai bantal guling.
Bukan hanya mendorong tapi juga menangis, akhirnya rani memanggil fikri, yang juga sama ditolak oleh faisal,
Gerakan tangan faisal seperti mengusir mereka, dan benar saja, ketika fikri dan rani keluar, faisal tenang dan tidur lelap,
Fikri pergi kedapur mengambil pisau. Pisau tersebut diletakan di bawah bantal dimana faisal tidur. Setelah itu mereka duduk di ruang tamu, sampai saya pulang kerja mereka masih diruang tamu dan menceritakan tingkah faisal hari ini. Saya hanya melihatnya dari pintu kamar yang sengaja tidak ditutup. Ketika fikri menanyaakan pada pak ustad, beliau berpesan, jangan ada boneka yang berwarna kuning, dan saat itu memang yang dipeluk faisal adl boneka pisang berwarna kuning, ada juga boneka bantal yg brwarna kuning dkamar itu.
Akhirnya Boneka yang berwarna kuningpun disingkirkan. Dimasukan plastik besar dan di simpan di ruangan yg hanya 1,5x2m, Saya tau disimpan disitu karna melihatnya waktu menaruh handuk, bahkan saya sempat mengambilnya karna itu boneka yg biasa di peluk faisal saat tidur. Dan berniat memberikan kpd faisal namun dicegah oleh fikri, dan menyuru ku agar mengembalikan ditempat tadi, sebelumnya saya tidak tahu alasan disimpanya boneka itu sebelum fikri mengatakanya.
Dengan disimpanya boneka-boneka itu, kami berharap faisal baik baik saja. Memang ada beberapa bulan keadaan penghuni rumah baik baik saja. Tidak ada yang mengatakan ada keanehan keanehan yg terjadi di rumah itu. Akan tetapi saya masih sering merasa tiba tiba merinding, suhu ruangan juga masih panas saya rasakan. Entah yang lain merasakanya atau tidak, karna tidak ada yg cerita dan saya juga tidak menayakan. Tapi yang jelas faisal baik baik saja,, sehat dan ceria spt kebanyakan balita.
Setiap hari sabtu, jam kerja saya hanya setengah hari, jadi selalu pulang cepat, karna setelah sampai rumah ternyata rokoku mau habis, saya telfon kak rizka buat nitip rokok. Sore hari kak rizka pulang, saya menyusul kekamarnya mengambil rokok yg saya pesan. "Kak rokoku ngak lupa kan". Sesampainya dikamar saya langsung menanyakan titipanku.
"Tuh di tas, ambil aja" "Mau skalian kopi nga mas, aku mau bikin" jawab kak rizka sambil menunjuk tas yang ada di atas kasur. Saya pun mengambil rokok dan mengangguk atas tawaran kopinya. Sambil menunggu kak rizka bikin kopi, saya duduk di kamar kak rizka sambil nonton tv, setelah kopi jadi, kami ngrokok bareng di dlm kamarnya.
Entah ngrobrol apa saja, sampai akhirnya kak rizka cerita tentang kejadian kejadian yang ia alami selama di sini. Bahkan bisa dibilang sering, yang pertama ia alami adalah ketika ia kerja masuk siang dan pulang jam 10 malam, dan ketika masuk kamar ternyata tv didalma kamar nyala, namun lampu kamar mati, waktu itu kak rizka pikir ia yang lupa mematikan tv pas berangkat kerja.
Karna dalam keadaan capek, ia matikan tv dan langsung mandi, selesai membersihkan diri kak rizka pun masuk kekamar dan ternyata lampu kamar sudah mati dan tv kembali hidup. Dalam keadaan takut ia menghidupkan lampu dan membiarkan tv tetap menyala. Kemudian buru buru mengambil baju ganti, mengambil tas dan pergi kekamar mandi lagi untuk memakai baju. Setelah selesai memakai baju kak rizka langsung pergi ke tempat temanya, sampai kamar nya pun tidak ia kunci karna tidak berani masuk kamar. Dan ketika pagi harinya ia pulang, tv sudah mati lagi.
Dan yang paling membuatnya takut adalah saat ia sakit, seharian kak rizka di dalam kamar, dan ketika bangun hari sudah malam karna mendengar seperti pintu terbuka, tapi ketika bangun pintunya masih dalam keadaan tertutup. Karna kepalanya masih pusing, ia duduk sebentar sebelum menyalakan lampu kamarnya. Walaupun lampu kamar mati namun keadaan tidak begitu gelap, karna lampu diluar kamar semuanya menyala.
"Mas...mass" panggilnya, karna mendengar suara langkah kaki dan orang berdehem diluar kamar yang ia kira adalah saya yg di sana. Beberaap kali kak rizka panggil, namun tidak ada jawaban, tapi suara langkah kaki itu seperti mondar mandir, dan sesekali ada suara berdehem. Dengan berpegangan dinding ia menyalakan lampu yg ada di dekat pintu dan membuka pintu namun diluar kamar tidak ada siapa siapa. Kak rizka pun menutup pintu dan langsung memguncinya, ia kembali ke kasurnya, waktu itu ia mau kekamar saya katanya, namun karna sudah larut malam ia tidak enak membangunkanku untuk menaminya.
Malam itu kak rizka mencoba untuk kembali tidur, lampu ia biarkan menyala. Namun rasa kantuknya tidak juga datang, walau matanya terus ia pejamkan. Dan entah sadar atau tidak. Antara sadar dan tidur ia mendengat langkah kaki mondar mandir lagi. Dan "BRUGG", "Bagudung kau" (tikus kau) ia dikagetkan oleh suara pintu yg ditabrak dan langsung terbangun sambil teriak mengumpat, badanya basah karna keringat. (Bagudung adalah bahasa batak, walaupun kak rizka orang batam, tapi kata bagudung bnyak yg mengunakan sbg umpatan).
Malam itu kak rizka tidak tidur sampai pagi, ia menyalakan tv dan makan cemilan yg ada di dalam kamar. Ia menontonya tv sampai adzan subuh, dan setelah adzan subuh justru ia tertidur dampai siang. Kak rizka mengira yg mondar mandir itu saya karena Memang sewaktu kak rizka di rumah ini, saya sering main ke kamarnya untuk sekedar menonton tv, ngobrol atau mrokok bareng, karna kak rizka orangnya memang asik buat ngobrol.
Dan sering juga tv dikamarnya hidup dan mati sendiri. Ia selalu mengabaikan dan mencoba berani kalau tvnya hidup atau menyala sendiri asal tidak menampakkan diri atau ada suara suara aneh. Namun lain dengan kak lin.. gangguan yang dialaminya lebih nyata dan semakin lama semakin membuatnya ketakutan. Sama seperti kak rizka, kak lin juga tinggal sendiri di salah satu kamar. Dan kamarnya bersebelahan dengan kak rizka, hanya dipisahkan oleh kamar mandi, namun kak lin lebih feminin dan kalem tidak seperti kak rizka yang sering heboh sendiri.
Kak lin jarang sekali pulang cepat, ia sering pulang malam, dan diantar cowoknya. Kalaupun pulang cepat, cowoknya seringnya mampir sampe malam.
Sudah lewat tengah malam, kak lin terbangun dari tidurnya karna kebelet pipis, namun ia coba tahan karna memdengar air kran mengalir di dalam kamar mandi. ia pikir ada orang disana. Kak lin pun duduk memunggu. Beberapa saat menunggu, namun orang itu tidak juga selesai. Saat suara air kran berhenti, kak lin langsung bangun dan tapi belum sempat ia keluar kamar, air kran seperti mengalir lagi, karna sudah tak tahan, kak lin tetap keluat kamar dan duduk dikursi depan kamar,
Namun orang yg di dalam kamar mandi tidak juga keluar walau sudah tidak ada suara air kran. Kak lin berdiri dan menuju kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa langkah. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi. Ia ragu untuk mengetuk pintu, namun rasa yg sudah tak tertahan membuatnya nekat.
"Tok" baru sekali ketuk pintu langsung terbuka. Dan betapa kagetnya kak lin, karna kamar mandi gelap dan tidak ada orang, namun lantai kamar mandi basah, seperti habis digunakan. Namun karna saking kebeletnya, kak lin nekad masuk dan pipis. Dan ketika masih blm selesai, bulu tengkuknya merinding dan berat. Kulit tengkuknya terasa tebal dan kaku,
"Bruaakk" Kak lin membanting pintu. Dan suara pintu kamar mandi itu membangunkan seisi rumah. Kami pun keluar kamar masing masing dan menuju arah kamar mandi. "Tok tok tok" "Kak lin" rani mengetuk pintu dan memamggil kak lin. Dan ketika kak lin membuka pintu, kamk lihat muka kak lin pucat, dan tanganya masih gemetar. Kami duduk dikursi depan kamar dan menanyakan apa yg terjadi.
Dan kak lin pun menceritakan kejadian yg baru saja ia alami. Tadi selagi ia pipis dan belum selesai, tiba tiba ia merinding tak bisa ditahan di tengkuknya, dan terasa ada hembusan nafas di belakang kepalanya, dan ia nekad keluar kamar mandi dan membanting pintu. Dan berlari masuk ke kamar, karna sangat ketakutan.. bahkan kencingnya tidak ia selesaikan. Dan ternyata tidak hanya itu, selama ini kak lin sering mendengar langkah kaki keluar masuk pintu dan berjalan menuju belakang/dapur. Memang pintu utama sebelah kiri maupun sebelah kanan semua langsung menuju dapur, hanya saja yg sebelah kanan ada ruanh tamunya, sedangkan sebelah kiri membentuk sebuah lorong yg lurus dari pintu kedapur.
Pernah kak lin langsung membuka pintu waktu mendengar suara orang lewat dikamarnya, namun ia tidak melihat siapa siapa. Pernah juga mendengar suara didapur seperti orang masak. Namun tidak ada juga waktu di cek kedapur. Sama seperti kak rizka ia mengabaikanya asal tidak terlalu menganggu, bahkan kak lin sempt berfikir "mungkin mereka hanya ingin memneri tahu keberadaan mereka". Namun kali ini yg dialami kak lin lbh parah menurutnya karna sudah mgganggu langsung. Dan itu diluar batas keberanianya. Akhirnya ia pindah kost setelah akhir bulan.
Bukan hanya malam mereka menunjukan keberadaanya tapi juga siang, namun lebih sering menunjukan ke tamu atau orang luar yang main ke rumah ini. Salah satunya pengasuh faisal, ya.. karna Rani kerja jadi faisal dititipkan ke pengasuh. Pagi hari faisal akan di antar kesana. Dan kalau sore pengasuh akan mengatarkan pulang.
Sebut saja mba sari. Baru pertama ia datang ke rumah ini, ia sudah dibuat takut. Sore hari wakti ia mengantar faisal, ia duduk dilantai ruang tamu, ternyata ia merasakan apa yg saya rasakan, yaitu panas. Jadi ia ddk dlantai. Ia duduk menghadap dalam yg langsung terlihat ruangan dapur. Ketika diajak mengobrol mba sari terlihat tidak terlalu merespon, karna beberapa kali dia menoleh arah dapur dan agak lama memperhatikanya.
"Siapa yang di dalam mba" Tanya mba sari kpd rani. Rani pun menjawab tidak ada siapa siapa di rumah, krn blm pada pulang kerja. Dan mba sari mengatakan ia beberapa kali melihat sekelebat orang didapur dan orang berjalan keluar dr kamar mandi menuju ruangan di depanya yg hanya 1,5 x 2 m itu. Namun rani tidak melihatnya.. namun mba sari yakin ia melihat ada kelebatan orang disana, ia yakin krn tidak hanya sekali namun beberapa kali.
Semenjak saat itu, setiap kali mba sari mengantar faisal ia tidak mau masuk, kalaupun masuk ia akan duduk dan menghadap luar. Beberapa contoh yg di sebut ruangan LUWANG MAYIT.




Diawal saya ceritakan ada satu rumah yang sudah ambruk sebagian, terkadang kalau pulang kerja sudah malam saya memilih memutar lebih jauh agat tidam melewati depan rumah itu, saya tidak pernah melihat penampakan atau sosok yang menakutkan. Hanya saja melihat kondisi bangunanya disiang hari saja sudah mengerikan. Apa lagi saya selalu jalan kaki dari jalan raya kerumah, dan komplek pasti sudah sepi kalau malam.
Ada satu tetangga yang jaraknya 1 rumah menceritakan tentang hari harinya yg terus merasa ketakutan. Rumahnya tepat berhadapan dengan bangunan itu. Wktu itu sore hari, karna saya tdk lembur jadi pulang awal, sampai di rumah rencananya mau langsung mandi karna sudah janjian sama teman mau jalan ke mega mall batam centre.
Sesampainya di gerbang rumah saya langsung menuju jemuran. Mengambil handuk dan pakaian yang tadi pagi saya jemur, akan tetapi celana dalam saya tidak ada. Karna ada beberapa pakaian dijemuran yg jatuh saya mengambilnya satu persatu. Siapa tau Celana dlam ku juga jatuh. Namun ternyata tidak ada, sampai akhirnya saya lihat ada gantungan baju di bawah didekat pintu gerbang. Saya mengambilnya, dan ternyata celana dalam saya dan beberapa daleman lain ada di bawah mobil tetangga pas sebelah rumah. Saya jongkok hampir berbaring untuk mengambilnya.
"Cari apa mas" Tegur ibu sebelahnya lagi yg sedang duduk di teras rumahnya, mungkin kawatir saya berbuat yg aneh aneh karna di dekat mobil orang. "Ini bu dalaman saya ada dikolong mobil" jawab ku. Ibu itu kemudian mengambil sapu dan mmberikan kepadaku untuk mengmbilnya. Setelah selesai, saya kembalikan sapu ke ibu itu. "Hati hati mas, skarang banyak orang yg aneh aneh, kalau jemur daleman di dalam rumah saja atau ditungguin"
Kata ibu itu menasehati. Saya pun meng iyakan, dan entah apa yg saya pikirkan, saya memberanikan diri untuk menanyakan hal terkait rumah yg saya tinggali saat itu, siapa tau ibu itu pernah mendengar sesuatu, tp dengan cepat ia menjawab tidak pernah mendengar yg aneh aneh di rumah itu.
Beliau justru langsung melihat bagunan yg berada didepan rumahnya. "Kalau rumah yg didepan rumah ibu ini malah saya sering merasa didatengin mas" kata ibu itu. Kemudian ia menceritakan, kalau setiap malam ia harus membiasakan tidur lebih awal, karna pernah waktu ia keasikan nonton sinetron, dan tidur agak malam, beliau tidak bisa tidur sedangkan suami dan anak anaknya sudah tidur, stiap matanya dipejamkan, lama lama tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan ketika ia berhasil bangun dan tidur lagi hal yg sama akan terjadi.
Walaupun berdoa berkali kali tetap saja ia ketindihan. Jadi semenjak saat itu. Beliau selalu tidur lebih awal, namun bukan berarti beliau aman dari gangguan, karna setiap hari ia harus bangun lebih awal untuk memasak untuk sarapan dan menyiapkan hal lain untuk anak anaknya dan suaminya. Karena anak anaknya harus berangkat sekolah pagi pagi, begitupun suaminya yg harus mengantar sekolah dan kerja.
Jadi sebelum subuh ibu itu sudah bangun dan memulai aktifitasnya. Beliau mengatakan, setiap bangun untuk memasak, ia seperti ada yg memperhatikanya, gerak geriknya seperti diawasi. Namun karna harus memasak ia memberanikan diri, untuk sesikit menghilangkan rasa takutnya ia akan menyayi pelan dan kadang bergumam sendiri. Namun yg sering ia katakan adalah "Jangan ganggu ibu ya, ibu mau masak untuk sarapan bapak, jadi jangan ganggu ya". Beliau berbicara sendiri dan akan diulang berkali kali sambil memasak. Dan baru berhenti bergumam seperti itu sampai selesai masak.
Sama dengan kak lin dulu sebelum pindah, ia tidak pernah lewat depan rumah itu walau naik motor diantar cowonya. Ia selalu memutar, katanya takut juga lewat depan rumah itu kalau malam, padahal kanan kirinya terang oleh lampu rumah di sekitarnya. Setelah mendengar cerita ibu tadi saya pulang, dan ternyata rani lagi kebingungan mencari CD nya juga. Namun tidak ketemu. Jadi yg hilang hanya CD cewek saja, sedangkan CD cowok dibuang. (Mungkin teman teman disini ada yg tau buat apa CD itu, krn di komplek ini sering kemalingan CD cewek di jemuran).
Entah kenapa semenjak saya tinggal dirumah ini, teman teman saya jarang ada yang main, padahal waktu saya masih kost teman teman saya selalu ramai main ke kost, bahkan sampe malam, malah kadang tengah malam juga masih ada yang datang mengerjakan tugas kampusnya. Banyak teman teman saya yg melanjutkan kuliah sambil kerja, jadi mereka bayk yg datang sekedar mencari teman begadang.
Setelah saya pindah mereka pada engan berkunjung, paling hanya datang sekali dan tidak pernah datang lagi. Setelah saya tanya tanya ternyata ada beberapa yg mengaku juga, katanya suasana rumahnya berbeda. Ada rasa yg membuat mereka tidak betah. Dan setiap teman yang datang, pulangnya banyak yg sial, ada yg banya bocor, motor mogok dan lain lain.
Hampir 2 tahun kami tinggal dirumah itu dan akhirnya kami memyerah karna satu kejadian yang hampir merenggut nyawa faisal. Beberapa hari itu sebenernya kami lagi senang, senang karna akhirnya sodik mendapat pekerjaan setelah berjuang beberapa tahun mencari kerja. Walau hanya sebagai OB di sebuah bengkel dan pembuat alat alat bantu mesin industri, namun setidaknya ia bekerja. Kami senanang ketika melihatnya berangkat kerja, namun kebahagiaan itu tertutup oleh keadaan fikri. Hari itu fikri masuk shif malam. Malam hari Sepulang saya kerja ternyata ternyata fikri masih di rumah. Seharusnya dia sudah berada si tempat kerja malam itu karna wajib lembur yang berarti harus berangkat lebih awal, karna lembur shif malam ada di jam awal.
"Fikri nga lembur apa ran?" Tanyaku kpd rani. "Nga masuk kayanya, lagi sakit" Jawab rani yg lagi menonton tv dan fikri terbaring di kamar. "Nenggopo fik, mriang po?" (Kenapa fik, sakit ya?) Tanyaku kpd fikri yg masih terbaring melihat langit langit kamar. "Mbuh lah, rasane lemes, balungku linu kabeh" (Ga tau lah, rasanya lemes, tulangku ngilu semua) jawab fikri.
Saya pun keluar kamar setelah menyuruhnya istirahat, keesokan harinya, fikri ke dokter ditemani rani karna keadaanya masih sama spt td malam. Saya tidak bisa mengantar karna harus kerja hari itu. Sore setelah saya pulang, rani mengatakan fikri tidak sakit menurut dokter. Keadaanya baik baik saja. dan lagi lagi hanya diberi vitamin saja oleh dokter. Padahal badanya lemes, dan kadang malah menggigil.
Mendengar cerita rani, perasaan saya mulai khawatir, takutnya kejadian dulu terulang lagi. Hari itu saya tidak kemana mana sampai malam walaupun sebenarnya ada janji sama teman dari negri sakura yg sebenarnga adalah bos saya di perusahaan, beliau mengajaku jalan2 keliling batam dan biasanya pulangnya hampir subuh. Jadi janji itu saya batalkan via telfon.
Perasaan saya mengatakan harus siaga di rumah malam itu. Dan benar saja tengah malam saya dibangunkan oleh jeritan faisal. Saya buru buru keluar kamar dan melihat faisal yg sudah di gendong rani dengan tangisan yg cukup keras di kamarnya. Sedangkan fikri masih terbaring di kasur tidak bisa banyak membantu menenangkan faisal. Lumayan lama kami menenagkan faisal namun tangisnya tidak juga berhenti, akhirnya faisal saya gendong, dan saya bawa jalan kesana kemari didalam rumah dan di halaman.
Tidak lama tangis faisal mereda dan berhenti, faisal tertidur digendonganku. "Faisal biar tidur d sini saja ran mungkin dia kepanasan"
Kataku kepada rani, dan saya membaringkan faisal di ruang tamu kasur lipat depan tv. Pagi harinya keadaan fikri tidak juga membaik. Keadaanya masih lemas, bahkan makin pucat, dan bau itu, bau yang saya kenal tercium lagi sewaktu saya masuk ke kamarnya. Keadaan pagi itu membuatku bingung, harus berangkat kerja atau cuti, namun saya putuskan berangkat.
"Faisal dititipkan saja ran, biar kamu jaga fikri saja". Saya menyarankan agar faisal dititipkan saja sama pengasuhnya, karena biasanya kalau rani tidak kerja faisal tidak dititipkan. Rani pun kemudian menelfon pengasuh agar menjemput faisal pagi itu. Dan saya pun berangkat. Meninggalkan rani dan fikri dirumah. Setelah bekerja sodik jarang pulang, ia lebih sering tidur di tempat kerjanya karna kalau malam katanya diajari seniornya mengoperasikan mesin2 dan alat2 bengkel. Sedangkan kalau pagi ia bekerja sebagai OB.
Di tempat kerja perasaanku benar benar tidak tenang, pikiranku terus terbayang rumah, dan hari itu pun terasa sangat lama, tidak sabar menunggu jam pulang kerja. Ketika bel jam pulang berbunyi, segera saya pulang, ajakan nongkrong oleh teman teman semua saya tolak. Sesampainya di rumah fikri masih saja di kamar, katanya hari ini ia pun dibawa kedokter lain, tapi hasilnya sama saja, dokter menyatakna fikri sehat.
Tidak lama setelelah saya pulang faisal pun diantar oleh pengasuhnya. Yang kemudian tiba tiba menagis begitu masuk rumah. Kali ini bukan saya saja yg bingung, tapi juga mba sari pengasuhnya, pasalnya seharian tadi faisal ceria ceria saja. Saya gendong faisal dan membawanya ke toko yg berada di komplek perumahan ini untuk membeli jajan, dan itu berhasil membuat faisal diam. Yang saya cemaskan sebenarnya bukan hanya faisal, tapi juga fikri. fikri seperti terlihat bingung dan gelisah saat faisal rewel. Namun ada sedikit yg membuat saya lebih tenang karna fikri masih tau siaap dirinya, dan tidak ngelantur spt dulu.
Sampai pada malam hari faisal masih tenang, bermain dan tidur di jam jam seperti biasanya. Sekitar jam 1 dini hari, saya memutuskan untuk tidur, dan baru beberapa menit saya dikamar, tangisan faisal kembali memecah keheningan malam itu. Tangisnya sangat kencang, bahkan beberapa tetangga sampai datang kerumah melihat keadaan faisal. Dan mereka pulang setelah faisal tenang, namun ternyata tenangnya faisal tidak berlangsung lama.
Sekitar satu jam tetangga pulang, faisal menangis lagi dan lebih kencang, saya yg baru masuk kamar langsung keluar lagi, membantu rani menenagkan faisal. Namun tetap saja faisal tidak bisa ditenangkan, bahkan semakin lama tangan faisal mengepal seperti menahan seauatu. Melihat keadaan faisal, saya berfikir jangan jangan faisal diganggu, spontan saya keliling ruangan menyalakan semua lampu yg ada dirumah itu.
Termasuk juga lampu kamar mandi. Dan ketika menghidupkan lampu ruangan 1,5x2 yg berada di depan kamar mandi, lampu itu hanya berkedip beberapa kali, bahkan cahanya dari lampu kamar mandi tidak banyak membuat ruangan itu terang, padahal ruanganya berhadapan. Rasa takut yg sudah lama tidak saya rasakan saat itu tiba tiba datang, saya masih berusaha menghidupkan lampu ruangan itu. Namun tidak berhasil.
"Tolooongggg" terdengar keras teriakan rani di ruang tamu, saya langsung lari menghampirinya, namun rani lari justru keluar rumah dengan terus teriakan minta tolong. Saya yang panik mengikutinya keluar, menahan rani. "Faisal... faisal... tolongg" hanya kata itu yg terus ia ucapkan kepadaku. Yang akhirnya saya sadari, faisal sudah tidak menangis, ia sudah diam, mukanya menengadah keatas lunglai digendongan rani.. tanganya menjuntai parah ke bawah.
Rani pun kembali berteriak, lari keluar gerbang dan meminta tolong kepada siapa saja yg mendengarnya. Sedangkan saya, menggedor rumah demi rumah yg memiliki mobil, dan akhirnya ada juga yg bangun dan keluar, dengan suara gugup saya meminta tolong agar diantar ke rumah sakit. Setelah mobil sampai di depan rumah, ternyata beberapa orang sudah ada yg datang. Faisal masih lunglai di gendongan rani yg masih menangis. Waktu itu saya pikir faisal "sudah pergi" namun setelah saya cek ia masih bernafas.
Atas rekomendasi dari salah satu tetangga yg datang, faisal kami bawa kerumah sakit itu. Tanpa membawa uang sedikitpun karna panik langsung naik mobil dan berangkat. Dan meninggalkan fikri di rumah. Sesampainya di rumah sakit rani menelfon pak gustaf. Rani memberitahukan keadaan faisal dan meminta tolong agar datang membawa uang. Kami tidak menelfon fikri untuk datang karna pasti ia akan panik di rumah dan takutnya akan memaksakan datang kerumah sakit. Kami hanya mengatakan faisal sudah ditangani dokter.
Faisal sadar setelah beberapa jam di rumah sakit. Dan setelah faisal sembuh faisal dan rani pulang ke jawa. Sedangkan fikri masih menempati rumah itu beberapa hari dan kemudian pindah. Belakangan saya baru tau kalau ruangan sempit itu adalah "luwang mayit" atau lubang kuburan, yang menurut mitos jawa ruangan spt itu sangat disukai oleh mahluk halus. Bukan hanya ruangan itu tapi letak pintu juga tidak dibenarkan. Di mana pintu masuk langsung lurus sampe dapur. Dan masih banyak lagi tata letak ruangan di rumah ini yg salah menurut beberapa orang yg mengerti tentang hal-hal gaib.
Saya tidak bisa mengambarkan denah rumah, dan alamatnya. Karna rumah itu punya orang lain. Fikri dan keluargannya sampe sekarang masih di batam, rani kembali kebatam setelah menenangkan diri di jawa. Sodik sudah sukses dengan pekerjaanya sebagai senior dengan bayaran tinggi. Tidak semua bisa saya ceritakan, karna kejadian ini menyangkut beberapa orang. Yg saya ceritakan hanya yg mereka ijinkan. Sedangkan saya sendiri selama tinggal di rumah itu tidak banyak mengalami hal hal aneh, tidak sperti penghuni lain. Kecuali sebuah kata yg terus terngiang sampe sekarang yaitu kata DURIANGKANG.
Mungkin warga batam ada yg tau apa itu dan ada apa dengan DURIANGKANG bisa bantu jawab. Kisah RUMAH LUWANG MAYIT saya sudahi sampai disini, maaf kalau ada penulisan yg salah dan segala kekuranganya. Terimakasih.
Dan ketika fikri bangun, kami memberi tahu kalau benda itu sudah kamj buang, Fikri mengangguk dan mengatakan tidak apa apa, tapi ia berjalan keluar meminta saya menunjukan dimana benda itu dibuang,
Aneh.. benda itu sudah hilang, tidak ada ditempatnya lagi. "Awakmu entuk barang ngono kui seko ndi" (kamu dpt barang spt itu dari mana?) tanyaku. "Dike'i koncone wes suwe" (dikasih teman sudah lama) jawab fikri, dan kami pun kembali masuk. Duduk ruang tamu dan fikri menceritakan perihal benda itu. Jadi dulu benda itu fikri dapat dari salah satu temanya. Kata temanya dulu, benda itu untuk pelindung diri, fikri menerima pemberian temanya dan memasukanya kedompet, sebenarnya fikri tidak pernah mengalami hal hal aneh, baru kali ini saja ia mengalaminya.
Fikri adalah orang yang religius dari masih bujangan, berbanding terbalik dengan saya. Namun kami dekat dari kecil karna ibu kami kakak beradik, ibu saya adalah kakaknya ibu fikri, saya memanggilnya bibi dan kami memiliki sedikit kesamaan, setiap merasa meriang atau sakit dan memeriksakan ke dokter, dokter selalu bilang keadaan baik-baik saja, dan alhasil pulang hanya diberi fitamin saja.
Saya semakin terbiasa dan mulai betah tinggal di rumah ini dengan segala keganjilanya, bahkan saya mulai merasa nyaman. Tidak ada perasaan takut lagi. Tidak begitu saya gubris atau fikirkan walaupun kadang terasa merinding.
Beberapa bulan berjalan, ada yang datang memcari tempat kost, karna ada dua kamar yang kosong kamipun menerimanya, beberala hari kemudian ada lagi yg kost juga. Semuanya perempuan. Saya pindah kamar ke rumah sisi utara, dan 2 kamar disisi selatan yg kami kost kan, kamar itu berderet hanya berbatas kamar mandi saja. Dan bisa masuk lewat pintu utama sebelah selatan/kiri. Dan keanehan keanehan baru mulai terjadi lagi.
Yang menempati kamar di sebelah pintu kiri atau bekas kamar saya adalah kak lin, ia bekerja di salah satu kantor di batam centre sedangkan yang menempapati kamar sebelahnya atau belakang adalah kak rizka , rank dan kak rizka adalah teman kerja, kamar yg kak rizka tmpati adl kamar yang paling luas, yg ada bonekanya di dinding. Rumah kami jadi semakin rame dan hidup setelah mereka datang, apalagi atasan kak rizka dan rani sering main ke rumah saat itu, tidak perduli siang atau malam. Namanya pak gustaf.
Orangnya friendly dan suka bercanda. Kami memang jarang mengunci pintu sebelah kiri, agar memudahkan kak lin atau kak rizka masuk, karna pulangnya tidak tentu. Malam itu pak gustaf datang, namun kami semua sudah tidur, beliau masuk lewat pintu kiri, krn tau tidak dikunci beliau masuk saja, "Masak apa mba" sapa pak gustaf karna melihat kak lin dari belakang sedang berdiri di dapur menghadap kompor, namun kak lin tidak menoleh ataupun menjawab.
Pak gustaf pun melewatinya, dan melihat kamar kami dan kak rizka, karna kami sudah tidur dan kak rizka tidak ada. Ia pun keluar, setelah menutup pintu ia terdiam menatap motor yang berhenti di depan pintu gerbang. "Mba dari mana? Kok baru pulang" kata pak gustaf bingung sambil menunjuk kak lin dan ke arah dalam rumah. "Iya pak baru pulang" jawab kak lin ramah dan masuk kerumah.
Tanpa basa basi lagi, pak gustaf pergi tanpa pamit, ia bingung siapa yang ia lihat didapur tadi, ia melihat kak lin didapur tapi pas keluar kak lin baru pulang kerja diantar cowoknya. Di kantor pak gustaf menceritakan kejadian malam itu kepada rani, yang malah di tertawakan rani, karna dikira hanya menakut nakuti saja.
Selang bbrp hari. Waktu itu kira kira masih jam 10 malam. Rani dan fikri dikamar sedang ngobrol sambil berbaring, pintu kmar juga tdk dtutup. Saya sendiri tidak di rumah malam itu. "Sombong banget sih pak" kata rani sedikit keras karna melihat pak gustaf mondar mandir di dapur dan ruang tamu. Dan saat disapa malah pergi, saat rani keluar kamar juga sudah tidak ada, rani pun keluar rumah, namun pak gustaf tdk ada juga.
Keesokan harinya rani marah marah kepada atasanya perihal tadi malam. Melihat rani ngomel ngomel pak gustaf malah bingung, karna ia sendiri tadi malam tidak main kerumah, malam itu pak gustaf keluar bersama teman kantor dan juga kak rizka. Banyak kejadian kejadian dirumah ini, namun alhamdulillah saya sendiri tidak pernah melihat secara langsung, hanya merasa panas saat dirumah ini, berbeda dengan saat dirumah tetangga. Bahkan diteras rumahpun saya masih merasa panas. Walaupun tdak pernh melihat namun masih sering merasakan merinding atau berpapasan, kadang tiba tiba merasa takut. Saking panasnya kipas angin pun terasa spt hairdryer, dimana angin yang dihasilkan malah hangat. Kamar mandi yang harusnya dingin pun panas, bahkan lebih panas lagi, jdi kalau keluar dari kamar mandi akan terasa perbedaan suhunya. Kamar mandi itu berada di depan ruangan yg berukuran 1,5 x 2 meter saja dan tanpa pintu, dan inilah yang disebut luwang mayit, sebuah ruangan yang hanya berukuran seperti lubang kuburan. Di ruangan ini juga saya sering merasa berbeda.
Tetapi justru ruangan ini yg sering saya masuki setiap harinya. Karna handuk saya cantelkan disitu. Dan barang barang saya jg ditaruh disitu, baju kotor, tas dll. Di satu hari saya mendapat kabar kalau rani hamil. Kabar yang membahagiakan sekali buat saya, krn akn punya kponakan. Alhamdulillah apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, kehamilan rani berjalan lancar, sampai waktu melahirkan, bibi atau ibunya arif pun datang dari kampung untuk membantu mengurus bayinya, bayi itu diberinama faisal. Setiap malam bibi selalu membaca alquran.
Yang paling berbahagia saat kedatangan bibi selain fikri dan rani adalah sodik, karna saat bibi disini ia merasa punya ibu, merasakan diperhatikan ibu dan serasa mempunyai orang tua. Sesuatu yg sangat ia rindukan, dari kecil ia tidak merasakan hal itu. Ibu sodik menjadi tkw di arab sejak sodik kecil dan jarang pulang, sedangkan ayag sodik juga jarang pulang waktu sodik kecil sampai lulus sekolah. Sodik dr kecil sudah mandiri mengurua dirinya sendiri, kurang lebih 1 bulan bibi dibatam, dan akhirnya pulang. Sodikpun tak kuasa menahan tangisnya seperti tidak merelakanya. Ia ikut mengantar sampai bandara.
====================================================
Masih banyak kejadian sampai beberapa tahun kedepan setelah faisal lahir, saya akhiri malam ini dan mudah mudahan bisa lanjut besok ya.
Maaf kalau ada salah penulisan. Terimakasih.
Kali ini kejadian dialami sodik, walaupun kejadin ini bukan dirumah, dan mungkin bukan kejadian mistis, tapi ga apa apa ya saya ceritakan. Karna hari itu saya tudak lembur jam 9 saya sudah dirumah, duduk diteras sendiri, ditemani kopi dan sebungkus rokok, sedangkan fikri dan yang lain sudah di kamarnya.
Saya yang tidak biasa tidur cepat bingung mau ngapain. Jadi duduk diteras dengan pemandangan bukit yang diatasnya berdiri sebuah hotel, hotel vista namanya. Mungkin malah melamun waktu itu, dan di sadarkan oleh suara kaki yang diseret. Saya mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, dan melihat sodik sudah di pintu gerbang, berpegangan di pintu gerbang besi itu, kemudian melangkah pelan dengan kaki yang diseret, "Sreekkk sreekk". Ia berjalan mendekat, dan saya berdiri menghampirinya. "Nengopo koe" (Kenapa kamu?) tanya ku kpd sodik, memastikan ia tidak abis berkelahi, karna mmg orangnya emosian.
"Aku bar dicokot asu neng kono" (Aku habis di gigit anjing disana) jawab sodik sambil menunjuk arah belakang dan menyebut tempat kejadian. Kemudian menunjukan luka luka di kedua kakinya dan beberapa ada tangan dan tubuhnya, sepatu yang ia kenakan pun tunggal 1. Baju dan celananya sobek sobek dan kotor. Seketika saya mundur, bukan menolong malah mengusir sodik menjauh, menyuruhnya mandi di luar rumah di kran air yg biasa buat menyiram bunga. Dan sebelum mandi saya tidak memperbolehkan masuk. Dia pun menurut dan saya tertawa melihatnya.
Mendengar keributanku dan sodik, fikri dan rani keluar yang juga ikut tertawa. Karna melihat sodik mandi di luar dengan air dan tanah bergantian.
Setelah mandi baru sodik masuk dan ganti baju, dan menceritakan kejadian tadi. Malam itu sodik pulang dengan mengunakan angkot atau biasa di sebut carry (keri), dan turun di depan gang jalan masuk perumahan.
Dijalan ini ada beberapa meter yang gelap karna lampu jalanya sudah lama putus, dan ada pohon pohon berjejer menambah gelapnya jln. Ketika pas melewati jalan yang gelap dengan jalan kaki, kaki sodik terasa ditabrak sesuatu, diapun kaget dan langsung berlari karena Sesuatu yang menabraknya tidak terlihat, baru lari beberapa langkah, ia roboh krn tubuhnya di tabrak sesuatu lagi, namun kali ini samar samar terlihat, seperti sosok anjing hitam yang tinggi.
"Tolong tolong" Sodik berteriak meminta pertolongan, namun tidak ada yg dengar. Padahal tidak jauh dari situ ada warung nasi padang dan mie ayam yang ramai pengunjung. Sementara sosok anjing itu, sedang menggigit dan mengoyak kaki nya, ada dua ekor anjing yang besar yang berebut, saling menarik tubuh sodik. Sodik hanya bisa meronta, berteriak menendang dan memukul tak tentu arah, karna sosok itu juga berwarna gelap dan samar terlihat.
Untung saja celana jeans yang ia kenakan cukup longgar jadi luka gigitan di kaki dan juga lengan tidak terlalu dalam. Teriakan minta tolong terus ia lakukan dengan terus berusaha melawan. Dan teriakanya sepertinya di dengar, karna banyak orang dari warung nasi padang itu berlari kearahnya, dan tiba tiba anjing itu tidak terlihat, tidak tahu pergi kemana. Dan lebih kasian lagi, tidak ada yang mengantarkan sodik pulang, jadi ia susah payah pulang tertatih berjalan dengan menahan rasa sakit akibat gigitan gigitan tadi.
Pagi harinya sodik saya suruh memeriksakan lukanya ke dokter, takut terjadi apa-apa. Walapun menurut warga yang melihat saat kejadian, mereka tidak melihat apa-apa, hanya melihat sodik guling guling dan teriak minta tolong. Dan tentu saja agar sodik bisa cepat pulih dan bisa berjuang mencari pekerjaan lagi.
Saya sangat salut dengan semangat juangnya.
======================================================
Tak terasa faisal sudah tumbuh semakin besar, dan saya sangat dekat denganya, dia memanggil saya kokom (o om) di ajari manggil om karna saya blm menikah walaulun seharuanya saya dpanggil pakdhe, umur saya lebih tua sesikit dari fikri dan secara silsilah keluarga saya lebih tua jg. Saya kira anak anak tiba tiba menangis atau tertawa sendiri itu wajar, saya tidak pernah memikirkan hal aneh saat itu, dan saya juga tidak pernah menceritakan kepada siapapun.
Hingga sesuatu yang aneh terjadi pada faisal yg masih berumur kira kira 1 tahunan. Faisal tiba tiba menangis dan rewel, tangisnya pun keras lebih seperti menjerit, segala cara sudah dilakukan untuk menenangkanya, namun tidak berhasil juga, hingga akhirnyan fikri dan rani membaca doa doa.
Pelan namun pasti, rewel dan tangis faisal perlahan mereda Dan trtidur. Rani membaringkanya di kamar, dan ternyata keganjilan pada faisal belum selesai. Setelah dibaringkan faisal justru terjaga dan mendorong rani, berkali kali didekati faisal akan mendorong walau masih dlm keadaan berbaring memeluk boneka pisang yg dijadikan sebagai bantal guling.
Bukan hanya mendorong tapi juga menangis, akhirnya rani memanggil fikri, yang juga sama ditolak oleh faisal,
Gerakan tangan faisal seperti mengusir mereka, dan benar saja, ketika fikri dan rani keluar, faisal tenang dan tidur lelap,
Fikri pergi kedapur mengambil pisau. Pisau tersebut diletakan di bawah bantal dimana faisal tidur. Setelah itu mereka duduk di ruang tamu, sampai saya pulang kerja mereka masih diruang tamu dan menceritakan tingkah faisal hari ini. Saya hanya melihatnya dari pintu kamar yang sengaja tidak ditutup. Ketika fikri menanyaakan pada pak ustad, beliau berpesan, jangan ada boneka yang berwarna kuning, dan saat itu memang yang dipeluk faisal adl boneka pisang berwarna kuning, ada juga boneka bantal yg brwarna kuning dkamar itu.
Akhirnya Boneka yang berwarna kuningpun disingkirkan. Dimasukan plastik besar dan di simpan di ruangan yg hanya 1,5x2m, Saya tau disimpan disitu karna melihatnya waktu menaruh handuk, bahkan saya sempat mengambilnya karna itu boneka yg biasa di peluk faisal saat tidur. Dan berniat memberikan kpd faisal namun dicegah oleh fikri, dan menyuru ku agar mengembalikan ditempat tadi, sebelumnya saya tidak tahu alasan disimpanya boneka itu sebelum fikri mengatakanya.
Dengan disimpanya boneka-boneka itu, kami berharap faisal baik baik saja. Memang ada beberapa bulan keadaan penghuni rumah baik baik saja. Tidak ada yang mengatakan ada keanehan keanehan yg terjadi di rumah itu. Akan tetapi saya masih sering merasa tiba tiba merinding, suhu ruangan juga masih panas saya rasakan. Entah yang lain merasakanya atau tidak, karna tidak ada yg cerita dan saya juga tidak menayakan. Tapi yang jelas faisal baik baik saja,, sehat dan ceria spt kebanyakan balita.
Setiap hari sabtu, jam kerja saya hanya setengah hari, jadi selalu pulang cepat, karna setelah sampai rumah ternyata rokoku mau habis, saya telfon kak rizka buat nitip rokok. Sore hari kak rizka pulang, saya menyusul kekamarnya mengambil rokok yg saya pesan. "Kak rokoku ngak lupa kan". Sesampainya dikamar saya langsung menanyakan titipanku.
"Tuh di tas, ambil aja" "Mau skalian kopi nga mas, aku mau bikin" jawab kak rizka sambil menunjuk tas yang ada di atas kasur. Saya pun mengambil rokok dan mengangguk atas tawaran kopinya. Sambil menunggu kak rizka bikin kopi, saya duduk di kamar kak rizka sambil nonton tv, setelah kopi jadi, kami ngrokok bareng di dlm kamarnya.
Entah ngrobrol apa saja, sampai akhirnya kak rizka cerita tentang kejadian kejadian yang ia alami selama di sini. Bahkan bisa dibilang sering, yang pertama ia alami adalah ketika ia kerja masuk siang dan pulang jam 10 malam, dan ketika masuk kamar ternyata tv didalma kamar nyala, namun lampu kamar mati, waktu itu kak rizka pikir ia yang lupa mematikan tv pas berangkat kerja.
Karna dalam keadaan capek, ia matikan tv dan langsung mandi, selesai membersihkan diri kak rizka pun masuk kekamar dan ternyata lampu kamar sudah mati dan tv kembali hidup. Dalam keadaan takut ia menghidupkan lampu dan membiarkan tv tetap menyala. Kemudian buru buru mengambil baju ganti, mengambil tas dan pergi kekamar mandi lagi untuk memakai baju. Setelah selesai memakai baju kak rizka langsung pergi ke tempat temanya, sampai kamar nya pun tidak ia kunci karna tidak berani masuk kamar. Dan ketika pagi harinya ia pulang, tv sudah mati lagi.
Dan yang paling membuatnya takut adalah saat ia sakit, seharian kak rizka di dalam kamar, dan ketika bangun hari sudah malam karna mendengar seperti pintu terbuka, tapi ketika bangun pintunya masih dalam keadaan tertutup. Karna kepalanya masih pusing, ia duduk sebentar sebelum menyalakan lampu kamarnya. Walaupun lampu kamar mati namun keadaan tidak begitu gelap, karna lampu diluar kamar semuanya menyala.
"Mas...mass" panggilnya, karna mendengar suara langkah kaki dan orang berdehem diluar kamar yang ia kira adalah saya yg di sana. Beberaap kali kak rizka panggil, namun tidak ada jawaban, tapi suara langkah kaki itu seperti mondar mandir, dan sesekali ada suara berdehem. Dengan berpegangan dinding ia menyalakan lampu yg ada di dekat pintu dan membuka pintu namun diluar kamar tidak ada siapa siapa. Kak rizka pun menutup pintu dan langsung memguncinya, ia kembali ke kasurnya, waktu itu ia mau kekamar saya katanya, namun karna sudah larut malam ia tidak enak membangunkanku untuk menaminya.
Malam itu kak rizka mencoba untuk kembali tidur, lampu ia biarkan menyala. Namun rasa kantuknya tidak juga datang, walau matanya terus ia pejamkan. Dan entah sadar atau tidak. Antara sadar dan tidur ia mendengat langkah kaki mondar mandir lagi. Dan "BRUGG", "Bagudung kau" (tikus kau) ia dikagetkan oleh suara pintu yg ditabrak dan langsung terbangun sambil teriak mengumpat, badanya basah karna keringat. (Bagudung adalah bahasa batak, walaupun kak rizka orang batam, tapi kata bagudung bnyak yg mengunakan sbg umpatan).
Malam itu kak rizka tidak tidur sampai pagi, ia menyalakan tv dan makan cemilan yg ada di dalam kamar. Ia menontonya tv sampai adzan subuh, dan setelah adzan subuh justru ia tertidur dampai siang. Kak rizka mengira yg mondar mandir itu saya karena Memang sewaktu kak rizka di rumah ini, saya sering main ke kamarnya untuk sekedar menonton tv, ngobrol atau mrokok bareng, karna kak rizka orangnya memang asik buat ngobrol.
Dan sering juga tv dikamarnya hidup dan mati sendiri. Ia selalu mengabaikan dan mencoba berani kalau tvnya hidup atau menyala sendiri asal tidak menampakkan diri atau ada suara suara aneh. Namun lain dengan kak lin.. gangguan yang dialaminya lebih nyata dan semakin lama semakin membuatnya ketakutan. Sama seperti kak rizka, kak lin juga tinggal sendiri di salah satu kamar. Dan kamarnya bersebelahan dengan kak rizka, hanya dipisahkan oleh kamar mandi, namun kak lin lebih feminin dan kalem tidak seperti kak rizka yang sering heboh sendiri.
Kak lin jarang sekali pulang cepat, ia sering pulang malam, dan diantar cowoknya. Kalaupun pulang cepat, cowoknya seringnya mampir sampe malam.
Sudah lewat tengah malam, kak lin terbangun dari tidurnya karna kebelet pipis, namun ia coba tahan karna memdengar air kran mengalir di dalam kamar mandi. ia pikir ada orang disana. Kak lin pun duduk memunggu. Beberapa saat menunggu, namun orang itu tidak juga selesai. Saat suara air kran berhenti, kak lin langsung bangun dan tapi belum sempat ia keluar kamar, air kran seperti mengalir lagi, karna sudah tak tahan, kak lin tetap keluat kamar dan duduk dikursi depan kamar,
Namun orang yg di dalam kamar mandi tidak juga keluar walau sudah tidak ada suara air kran. Kak lin berdiri dan menuju kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa langkah. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi. Ia ragu untuk mengetuk pintu, namun rasa yg sudah tak tertahan membuatnya nekat.
"Tok" baru sekali ketuk pintu langsung terbuka. Dan betapa kagetnya kak lin, karna kamar mandi gelap dan tidak ada orang, namun lantai kamar mandi basah, seperti habis digunakan. Namun karna saking kebeletnya, kak lin nekad masuk dan pipis. Dan ketika masih blm selesai, bulu tengkuknya merinding dan berat. Kulit tengkuknya terasa tebal dan kaku,
"Bruaakk" Kak lin membanting pintu. Dan suara pintu kamar mandi itu membangunkan seisi rumah. Kami pun keluar kamar masing masing dan menuju arah kamar mandi. "Tok tok tok" "Kak lin" rani mengetuk pintu dan memamggil kak lin. Dan ketika kak lin membuka pintu, kamk lihat muka kak lin pucat, dan tanganya masih gemetar. Kami duduk dikursi depan kamar dan menanyakan apa yg terjadi.
Dan kak lin pun menceritakan kejadian yg baru saja ia alami. Tadi selagi ia pipis dan belum selesai, tiba tiba ia merinding tak bisa ditahan di tengkuknya, dan terasa ada hembusan nafas di belakang kepalanya, dan ia nekad keluar kamar mandi dan membanting pintu. Dan berlari masuk ke kamar, karna sangat ketakutan.. bahkan kencingnya tidak ia selesaikan. Dan ternyata tidak hanya itu, selama ini kak lin sering mendengar langkah kaki keluar masuk pintu dan berjalan menuju belakang/dapur. Memang pintu utama sebelah kiri maupun sebelah kanan semua langsung menuju dapur, hanya saja yg sebelah kanan ada ruanh tamunya, sedangkan sebelah kiri membentuk sebuah lorong yg lurus dari pintu kedapur.
Pernah kak lin langsung membuka pintu waktu mendengar suara orang lewat dikamarnya, namun ia tidak melihat siapa siapa. Pernah juga mendengar suara didapur seperti orang masak. Namun tidak ada juga waktu di cek kedapur. Sama seperti kak rizka ia mengabaikanya asal tidak terlalu menganggu, bahkan kak lin sempt berfikir "mungkin mereka hanya ingin memneri tahu keberadaan mereka". Namun kali ini yg dialami kak lin lbh parah menurutnya karna sudah mgganggu langsung. Dan itu diluar batas keberanianya. Akhirnya ia pindah kost setelah akhir bulan.
Bukan hanya malam mereka menunjukan keberadaanya tapi juga siang, namun lebih sering menunjukan ke tamu atau orang luar yang main ke rumah ini. Salah satunya pengasuh faisal, ya.. karna Rani kerja jadi faisal dititipkan ke pengasuh. Pagi hari faisal akan di antar kesana. Dan kalau sore pengasuh akan mengatarkan pulang.
Sebut saja mba sari. Baru pertama ia datang ke rumah ini, ia sudah dibuat takut. Sore hari wakti ia mengantar faisal, ia duduk dilantai ruang tamu, ternyata ia merasakan apa yg saya rasakan, yaitu panas. Jadi ia ddk dlantai. Ia duduk menghadap dalam yg langsung terlihat ruangan dapur. Ketika diajak mengobrol mba sari terlihat tidak terlalu merespon, karna beberapa kali dia menoleh arah dapur dan agak lama memperhatikanya.
"Siapa yang di dalam mba" Tanya mba sari kpd rani. Rani pun menjawab tidak ada siapa siapa di rumah, krn blm pada pulang kerja. Dan mba sari mengatakan ia beberapa kali melihat sekelebat orang didapur dan orang berjalan keluar dr kamar mandi menuju ruangan di depanya yg hanya 1,5 x 2 m itu. Namun rani tidak melihatnya.. namun mba sari yakin ia melihat ada kelebatan orang disana, ia yakin krn tidak hanya sekali namun beberapa kali.
Semenjak saat itu, setiap kali mba sari mengantar faisal ia tidak mau masuk, kalaupun masuk ia akan duduk dan menghadap luar. Beberapa contoh yg di sebut ruangan LUWANG MAYIT.




Diawal saya ceritakan ada satu rumah yang sudah ambruk sebagian, terkadang kalau pulang kerja sudah malam saya memilih memutar lebih jauh agat tidam melewati depan rumah itu, saya tidak pernah melihat penampakan atau sosok yang menakutkan. Hanya saja melihat kondisi bangunanya disiang hari saja sudah mengerikan. Apa lagi saya selalu jalan kaki dari jalan raya kerumah, dan komplek pasti sudah sepi kalau malam.
Ada satu tetangga yang jaraknya 1 rumah menceritakan tentang hari harinya yg terus merasa ketakutan. Rumahnya tepat berhadapan dengan bangunan itu. Wktu itu sore hari, karna saya tdk lembur jadi pulang awal, sampai di rumah rencananya mau langsung mandi karna sudah janjian sama teman mau jalan ke mega mall batam centre.
Sesampainya di gerbang rumah saya langsung menuju jemuran. Mengambil handuk dan pakaian yang tadi pagi saya jemur, akan tetapi celana dalam saya tidak ada. Karna ada beberapa pakaian dijemuran yg jatuh saya mengambilnya satu persatu. Siapa tau Celana dlam ku juga jatuh. Namun ternyata tidak ada, sampai akhirnya saya lihat ada gantungan baju di bawah didekat pintu gerbang. Saya mengambilnya, dan ternyata celana dalam saya dan beberapa daleman lain ada di bawah mobil tetangga pas sebelah rumah. Saya jongkok hampir berbaring untuk mengambilnya.
"Cari apa mas" Tegur ibu sebelahnya lagi yg sedang duduk di teras rumahnya, mungkin kawatir saya berbuat yg aneh aneh karna di dekat mobil orang. "Ini bu dalaman saya ada dikolong mobil" jawab ku. Ibu itu kemudian mengambil sapu dan mmberikan kepadaku untuk mengmbilnya. Setelah selesai, saya kembalikan sapu ke ibu itu. "Hati hati mas, skarang banyak orang yg aneh aneh, kalau jemur daleman di dalam rumah saja atau ditungguin"
Kata ibu itu menasehati. Saya pun meng iyakan, dan entah apa yg saya pikirkan, saya memberanikan diri untuk menanyakan hal terkait rumah yg saya tinggali saat itu, siapa tau ibu itu pernah mendengar sesuatu, tp dengan cepat ia menjawab tidak pernah mendengar yg aneh aneh di rumah itu.
Beliau justru langsung melihat bagunan yg berada didepan rumahnya. "Kalau rumah yg didepan rumah ibu ini malah saya sering merasa didatengin mas" kata ibu itu. Kemudian ia menceritakan, kalau setiap malam ia harus membiasakan tidur lebih awal, karna pernah waktu ia keasikan nonton sinetron, dan tidur agak malam, beliau tidak bisa tidur sedangkan suami dan anak anaknya sudah tidur, stiap matanya dipejamkan, lama lama tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan ketika ia berhasil bangun dan tidur lagi hal yg sama akan terjadi.
Walaupun berdoa berkali kali tetap saja ia ketindihan. Jadi semenjak saat itu. Beliau selalu tidur lebih awal, namun bukan berarti beliau aman dari gangguan, karna setiap hari ia harus bangun lebih awal untuk memasak untuk sarapan dan menyiapkan hal lain untuk anak anaknya dan suaminya. Karena anak anaknya harus berangkat sekolah pagi pagi, begitupun suaminya yg harus mengantar sekolah dan kerja.
Jadi sebelum subuh ibu itu sudah bangun dan memulai aktifitasnya. Beliau mengatakan, setiap bangun untuk memasak, ia seperti ada yg memperhatikanya, gerak geriknya seperti diawasi. Namun karna harus memasak ia memberanikan diri, untuk sesikit menghilangkan rasa takutnya ia akan menyayi pelan dan kadang bergumam sendiri. Namun yg sering ia katakan adalah "Jangan ganggu ibu ya, ibu mau masak untuk sarapan bapak, jadi jangan ganggu ya". Beliau berbicara sendiri dan akan diulang berkali kali sambil memasak. Dan baru berhenti bergumam seperti itu sampai selesai masak.
Sama dengan kak lin dulu sebelum pindah, ia tidak pernah lewat depan rumah itu walau naik motor diantar cowonya. Ia selalu memutar, katanya takut juga lewat depan rumah itu kalau malam, padahal kanan kirinya terang oleh lampu rumah di sekitarnya. Setelah mendengar cerita ibu tadi saya pulang, dan ternyata rani lagi kebingungan mencari CD nya juga. Namun tidak ketemu. Jadi yg hilang hanya CD cewek saja, sedangkan CD cowok dibuang. (Mungkin teman teman disini ada yg tau buat apa CD itu, krn di komplek ini sering kemalingan CD cewek di jemuran).
Entah kenapa semenjak saya tinggal dirumah ini, teman teman saya jarang ada yang main, padahal waktu saya masih kost teman teman saya selalu ramai main ke kost, bahkan sampe malam, malah kadang tengah malam juga masih ada yang datang mengerjakan tugas kampusnya. Banyak teman teman saya yg melanjutkan kuliah sambil kerja, jadi mereka bayk yg datang sekedar mencari teman begadang.
Setelah saya pindah mereka pada engan berkunjung, paling hanya datang sekali dan tidak pernah datang lagi. Setelah saya tanya tanya ternyata ada beberapa yg mengaku juga, katanya suasana rumahnya berbeda. Ada rasa yg membuat mereka tidak betah. Dan setiap teman yang datang, pulangnya banyak yg sial, ada yg banya bocor, motor mogok dan lain lain.
Hampir 2 tahun kami tinggal dirumah itu dan akhirnya kami memyerah karna satu kejadian yang hampir merenggut nyawa faisal. Beberapa hari itu sebenernya kami lagi senang, senang karna akhirnya sodik mendapat pekerjaan setelah berjuang beberapa tahun mencari kerja. Walau hanya sebagai OB di sebuah bengkel dan pembuat alat alat bantu mesin industri, namun setidaknya ia bekerja. Kami senanang ketika melihatnya berangkat kerja, namun kebahagiaan itu tertutup oleh keadaan fikri. Hari itu fikri masuk shif malam. Malam hari Sepulang saya kerja ternyata ternyata fikri masih di rumah. Seharusnya dia sudah berada si tempat kerja malam itu karna wajib lembur yang berarti harus berangkat lebih awal, karna lembur shif malam ada di jam awal.
"Fikri nga lembur apa ran?" Tanyaku kpd rani. "Nga masuk kayanya, lagi sakit" Jawab rani yg lagi menonton tv dan fikri terbaring di kamar. "Nenggopo fik, mriang po?" (Kenapa fik, sakit ya?) Tanyaku kpd fikri yg masih terbaring melihat langit langit kamar. "Mbuh lah, rasane lemes, balungku linu kabeh" (Ga tau lah, rasanya lemes, tulangku ngilu semua) jawab fikri.
Saya pun keluar kamar setelah menyuruhnya istirahat, keesokan harinya, fikri ke dokter ditemani rani karna keadaanya masih sama spt td malam. Saya tidak bisa mengantar karna harus kerja hari itu. Sore setelah saya pulang, rani mengatakan fikri tidak sakit menurut dokter. Keadaanya baik baik saja. dan lagi lagi hanya diberi vitamin saja oleh dokter. Padahal badanya lemes, dan kadang malah menggigil.
Mendengar cerita rani, perasaan saya mulai khawatir, takutnya kejadian dulu terulang lagi. Hari itu saya tidak kemana mana sampai malam walaupun sebenarnya ada janji sama teman dari negri sakura yg sebenarnga adalah bos saya di perusahaan, beliau mengajaku jalan2 keliling batam dan biasanya pulangnya hampir subuh. Jadi janji itu saya batalkan via telfon.
Perasaan saya mengatakan harus siaga di rumah malam itu. Dan benar saja tengah malam saya dibangunkan oleh jeritan faisal. Saya buru buru keluar kamar dan melihat faisal yg sudah di gendong rani dengan tangisan yg cukup keras di kamarnya. Sedangkan fikri masih terbaring di kasur tidak bisa banyak membantu menenangkan faisal. Lumayan lama kami menenagkan faisal namun tangisnya tidak juga berhenti, akhirnya faisal saya gendong, dan saya bawa jalan kesana kemari didalam rumah dan di halaman.
Tidak lama tangis faisal mereda dan berhenti, faisal tertidur digendonganku. "Faisal biar tidur d sini saja ran mungkin dia kepanasan"
Kataku kepada rani, dan saya membaringkan faisal di ruang tamu kasur lipat depan tv. Pagi harinya keadaan fikri tidak juga membaik. Keadaanya masih lemas, bahkan makin pucat, dan bau itu, bau yang saya kenal tercium lagi sewaktu saya masuk ke kamarnya. Keadaan pagi itu membuatku bingung, harus berangkat kerja atau cuti, namun saya putuskan berangkat.
"Faisal dititipkan saja ran, biar kamu jaga fikri saja". Saya menyarankan agar faisal dititipkan saja sama pengasuhnya, karena biasanya kalau rani tidak kerja faisal tidak dititipkan. Rani pun kemudian menelfon pengasuh agar menjemput faisal pagi itu. Dan saya pun berangkat. Meninggalkan rani dan fikri dirumah. Setelah bekerja sodik jarang pulang, ia lebih sering tidur di tempat kerjanya karna kalau malam katanya diajari seniornya mengoperasikan mesin2 dan alat2 bengkel. Sedangkan kalau pagi ia bekerja sebagai OB.
Di tempat kerja perasaanku benar benar tidak tenang, pikiranku terus terbayang rumah, dan hari itu pun terasa sangat lama, tidak sabar menunggu jam pulang kerja. Ketika bel jam pulang berbunyi, segera saya pulang, ajakan nongkrong oleh teman teman semua saya tolak. Sesampainya di rumah fikri masih saja di kamar, katanya hari ini ia pun dibawa kedokter lain, tapi hasilnya sama saja, dokter menyatakna fikri sehat.
Tidak lama setelelah saya pulang faisal pun diantar oleh pengasuhnya. Yang kemudian tiba tiba menagis begitu masuk rumah. Kali ini bukan saya saja yg bingung, tapi juga mba sari pengasuhnya, pasalnya seharian tadi faisal ceria ceria saja. Saya gendong faisal dan membawanya ke toko yg berada di komplek perumahan ini untuk membeli jajan, dan itu berhasil membuat faisal diam. Yang saya cemaskan sebenarnya bukan hanya faisal, tapi juga fikri. fikri seperti terlihat bingung dan gelisah saat faisal rewel. Namun ada sedikit yg membuat saya lebih tenang karna fikri masih tau siaap dirinya, dan tidak ngelantur spt dulu.
Sampai pada malam hari faisal masih tenang, bermain dan tidur di jam jam seperti biasanya. Sekitar jam 1 dini hari, saya memutuskan untuk tidur, dan baru beberapa menit saya dikamar, tangisan faisal kembali memecah keheningan malam itu. Tangisnya sangat kencang, bahkan beberapa tetangga sampai datang kerumah melihat keadaan faisal. Dan mereka pulang setelah faisal tenang, namun ternyata tenangnya faisal tidak berlangsung lama.
Sekitar satu jam tetangga pulang, faisal menangis lagi dan lebih kencang, saya yg baru masuk kamar langsung keluar lagi, membantu rani menenagkan faisal. Namun tetap saja faisal tidak bisa ditenangkan, bahkan semakin lama tangan faisal mengepal seperti menahan seauatu. Melihat keadaan faisal, saya berfikir jangan jangan faisal diganggu, spontan saya keliling ruangan menyalakan semua lampu yg ada dirumah itu.
Termasuk juga lampu kamar mandi. Dan ketika menghidupkan lampu ruangan 1,5x2 yg berada di depan kamar mandi, lampu itu hanya berkedip beberapa kali, bahkan cahanya dari lampu kamar mandi tidak banyak membuat ruangan itu terang, padahal ruanganya berhadapan. Rasa takut yg sudah lama tidak saya rasakan saat itu tiba tiba datang, saya masih berusaha menghidupkan lampu ruangan itu. Namun tidak berhasil.
"Tolooongggg" terdengar keras teriakan rani di ruang tamu, saya langsung lari menghampirinya, namun rani lari justru keluar rumah dengan terus teriakan minta tolong. Saya yang panik mengikutinya keluar, menahan rani. "Faisal... faisal... tolongg" hanya kata itu yg terus ia ucapkan kepadaku. Yang akhirnya saya sadari, faisal sudah tidak menangis, ia sudah diam, mukanya menengadah keatas lunglai digendongan rani.. tanganya menjuntai parah ke bawah.
Rani pun kembali berteriak, lari keluar gerbang dan meminta tolong kepada siapa saja yg mendengarnya. Sedangkan saya, menggedor rumah demi rumah yg memiliki mobil, dan akhirnya ada juga yg bangun dan keluar, dengan suara gugup saya meminta tolong agar diantar ke rumah sakit. Setelah mobil sampai di depan rumah, ternyata beberapa orang sudah ada yg datang. Faisal masih lunglai di gendongan rani yg masih menangis. Waktu itu saya pikir faisal "sudah pergi" namun setelah saya cek ia masih bernafas.
Atas rekomendasi dari salah satu tetangga yg datang, faisal kami bawa kerumah sakit itu. Tanpa membawa uang sedikitpun karna panik langsung naik mobil dan berangkat. Dan meninggalkan fikri di rumah. Sesampainya di rumah sakit rani menelfon pak gustaf. Rani memberitahukan keadaan faisal dan meminta tolong agar datang membawa uang. Kami tidak menelfon fikri untuk datang karna pasti ia akan panik di rumah dan takutnya akan memaksakan datang kerumah sakit. Kami hanya mengatakan faisal sudah ditangani dokter.
Faisal sadar setelah beberapa jam di rumah sakit. Dan setelah faisal sembuh faisal dan rani pulang ke jawa. Sedangkan fikri masih menempati rumah itu beberapa hari dan kemudian pindah. Belakangan saya baru tau kalau ruangan sempit itu adalah "luwang mayit" atau lubang kuburan, yang menurut mitos jawa ruangan spt itu sangat disukai oleh mahluk halus. Bukan hanya ruangan itu tapi letak pintu juga tidak dibenarkan. Di mana pintu masuk langsung lurus sampe dapur. Dan masih banyak lagi tata letak ruangan di rumah ini yg salah menurut beberapa orang yg mengerti tentang hal-hal gaib.
Saya tidak bisa mengambarkan denah rumah, dan alamatnya. Karna rumah itu punya orang lain. Fikri dan keluargannya sampe sekarang masih di batam, rani kembali kebatam setelah menenangkan diri di jawa. Sodik sudah sukses dengan pekerjaanya sebagai senior dengan bayaran tinggi. Tidak semua bisa saya ceritakan, karna kejadian ini menyangkut beberapa orang. Yg saya ceritakan hanya yg mereka ijinkan. Sedangkan saya sendiri selama tinggal di rumah itu tidak banyak mengalami hal hal aneh, tidak sperti penghuni lain. Kecuali sebuah kata yg terus terngiang sampe sekarang yaitu kata DURIANGKANG.
Mungkin warga batam ada yg tau apa itu dan ada apa dengan DURIANGKANG bisa bantu jawab. Kisah RUMAH LUWANG MAYIT saya sudahi sampai disini, maaf kalau ada penulisan yg salah dan segala kekuranganya. Terimakasih.
Rumah Luwang Mayit
Reviewed by Admin
on
April 18, 2020
Rating:
Reviewed by Admin
on
April 18, 2020
Rating:
No comments: